4 Tempat Wisata di Jateng Ini Disebut ‘Kebanjiran’ Pengunjung Saat Libur Lebaran 2026
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Sel, 24 Mar 2026
- visibility 30

Foto: Candi Borobudur Jawa Tengah (Sumber: istock)
Kabarjatengterkini.com – Ada empat destinasi wisata di Jawa Tengah yang disebut ‘kebanjiran’ wisatawan saat momen libur Lebaran tahun 2026. Di anataranya adalah Lawang Sewu di Semarang, Masjid Syekh Zayed di Solo, serta Candi Prambanan dan Candi Borobudur.
“Kita melaporkan khususnya kepada Bapak Kapolri, khususnya kegiatan untuk pengamanan wisata. Wisata yang ada di Jawa Tengah ini tercatat ada 224 lokasi,” kata Wakapolda Jateng Brigjen Latif Usman, Selasa (24/3/2026), dikutip Detik.
“Tapi, memang yang menjadi favorit di Jawa Tengah itu yang mengalami peningkatan kunjungan,” lanjut dia lagi.
Ia kemudian merinci, kunjungan wisatawan ke Lawang Sewu sudah sekitar 199 ribu, sedangkan Masjid Syekh Zayed lebih dari 100 ribu kunjungan. Selain itu, kunjungan wisatawan Candi Prambanan terhitung 53.491.
Adapun Candi Borobudur menerima kunjungan sebanyak 36.709 dari tanggal 13 sampai 23 Maret. Destinasi wisata ini masih menjadi tempat favorit saat liburan meski jumlah tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2025.
“Dibanding tahun 2025, ini ada penurunan 0,06 persen,” sambung Latif.
Direktur Operasi InJourney Destination Management (IDM) Indung Purwita Jati juga menyebutkan ada sejumlah faktor yang kemungkinan menyebabkan penurunan jumlah kunjungan wisata ke Candi Borobudur selama libur Lebaran tahun ini.
“Jadi walaupun itu tidak berpengaruh secara langsung, tapi mungkin berpengaruh juga terhadap spending uang dari para masyarakat di masa liburan ini,” jelas dia.
Menurutnya, kondisi ekonomi di masa ini mendorong masyarakat lebih selektif untuk memilih tujuan wisata.
“Jadi mereka kemungkinan mudik tetap mudik, tapi untuk ke daerah wisata lebih selektif begitu. Ada kemungkinan, tapi itu pun juga masih kita cermati sejauh ini, apakah memang itu berpengaruh yang paling besar atau tidak,” terang Indung.
“Karena sebenarnya hal itu mungkin berpengaruh tidak hanya berpengaruh di industri pariwisata saja. Mudah-mudahan sih bukan karena itu ya,” pungkasnya. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

