Debit Air Waduk Seloromo Menyusut Signifikan, Operator Setop Irigasi ke Sawah
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 6

Foto: Waduk Seloromo (Sumber: Dok. Pemkab Pati)
Pati, Kabarjatengterkini.com – Waduk Seloromo di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, terancam kekeringan. Pasalnya, penyusutan debit air jumlahnya cukup signifikan hingga melebihi batas minimal yang ditentukan.
Volume air di Waduk Seloromo saat ini hanya tinggal 200 ribu meter kubik dari kapasitas 9 juta meter kubik. Kondisi ini mendorong pihak operator menyetop saluran irigasi ke ribuan sawah petani sejak 6 Oktober 2026 lalu.
“Untuk kondisi waduk sekarang ini volume air tinggal 200 ribu meter kubik. Dari kapasitas 9 juta meter kubik,” kata operator Waduk Seloromo Gembong, Pati, Susanto, Kamis (15/10/2026), dikutip Detik.
“Sudah tidak ada penggelontoran air ke pertanian lagi. Terakhir dilakukan penggelontoran air pada 6 Oktober 2026,” lanjut dia.
Ia menjelaskan, cadangan air di dalam waduk minimal 500 ribu meter kubik, namun kini tinggal 200 meter kubik. Kondisi serupa bukan kali pertama terjadi. Pada tahun 2022, Waduk Seloromo pernah mengalami kekeringan parah hingga debit air hanya tersisa 150 ribu meter kubik.
“Untuk pembahasan tanggul minimal 500 ribu meter kubik. Kemarin ada permintaan petani untuk mengairi supaya padi bisa dipanen, sehingga debit air berkurang menjadi 200 ribu meter kubik,” jelas Susanto.
“Kondisi seperti ini dulu tahun 2022 kejadian seperti ini dan kejadian lebih parah pada tahun 2022 akhir. (Waktu) Itu pembasahan di dasar waduk tinggal 150 ribu meter kubik,” terang dia lagi.
Debit air di waduk dikhawatirkan terus berkurang jika tidak segera turun hujan, bahkan mengancam kebutuhan irigasi petani. Padahal, biasanya air di waduk mampu mengari lahan persawahan di lima kecamatan, di antaranya Gembong, Margorejo, Pati, Tlogowungu, dan Wedarijaksa.
“Untuk perkiraan akan ada penguapan air, jadi volume terus berkurang, dan diperkirakan akan menjadi 150 ribu meter kubik lah,” jelasnya.
“Permintaan (penggelontoran air) dari petani ada, tapi kami setop, karena untuk menjaga kondisi keamanan waduk itu sendiri,” jelasnya. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

