Siswa SMK di Kota Pekalongan Kembangkan Mesin Pengolah Sampah Jadi BBM
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Sel, 16 Sep 2025
- visibility 91

Foto: Siswa SMK di Kota Pekalongan Kembangkan Mesin Pengolah Sampah Jadi BBM (Sumber: Dok. SMK Mudikal)
Pekalongan, Kabarjatengterkini.com – Siswa sekolah menengah kejuruan di Kota Pekalongan terus berupaya mengembangkan mesin pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).
Kepala SMK Muhammadiyah Kota Pekalongan (Mudikal), Khusnawan menjelaskan, ide pengembangan mesin sudah ada sejak tahun 2018. Setelahnya, para siswa juga telah melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan untuk menyempurnakan mesin.
Mesin tersebut sebelumnya hanya berupa prototipe kecil berbentuk tabung gas. Namun, dengan berbagai upaya siswa SMK Muhammadiyah Kota Pekalongan (Mudikal), kini kapasitas pengolahannya diperbesar menjadi wadah menyerupai periuk besar.
Proses menggunakan mesin tersebut memungkinkan menghasilkan tiga jenis output BBM utama, seperti solar oktan rendah, minyak tanah, dan premium.
“Dari proses pirolisis tersebut, dihasilkan tiga jenis output utama, yakni solar oktan rendah, minyak tanah, dan premium,” tuturnya, Senin (15/9/2025).
Adapun tujuan pengembangan mesin ini untuk mengurangi masalah sampah di area sekolah. Inovasi ini juga turut diajarkan kepada peserta didik lainnya sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek di sekolah.
Guru SMK Mudikal sekaligus penggagas ide pirolisis, Agus Riyadi menjelaskan cara kerja mesin, yakni memasukkan sampah plastik, terutama botol kemasan ke dalam wadah dandang besar. Setelah itu, sampah dibakar selama sekitar satu jam, lalu didinginkan dengan air di wadah berbeda.
“Akan lebih bagus jika menggunakan pompa, terutama saat suhu sangat tinggi. Dari proses itu akan keluar asap yang kemudian dialirkan melalui pipa-pipa yang sudah disiapkan hingga menghasilkan cairan BBM,” bebernya.
Kapasitas alat pirolisis bervariasi, tergantung ukuran sampah. Alat mampu menampung hingga 5 kilogram sampah yang sudah tercacah kecil, kemudian akan diolah menjadi BBM sebanyak 40–50 persen dari sampah yang diolah.
Meski belum diproduksi massal, pihaknya berharap SMK Mudikal dapat menjadi pelopor pendidikan berbasis riset dan lingkungan. Mesin tersebut bahkan berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Kreativitas dan Inovasi (Krenova) Kota Pekalongan Tahun 2024.
“Memang saat ini belum diproduksi massal dan masih dimanfaatkan untuk internal sekolah, tetapi ke depan jika ada pesanan, kami siap mengusahakan,” tambahnya. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

