Badan Geologi Kementerian ESDM Paparkan Dua Opsi Penanganan Sinkhole di Situjuah, Limapuluh Kota
- account_circle markom kabarjatengterkini
- calendar_month Sen, 9 Feb 2026
- visibility 49

Kabarjatengterkini.com- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memaparkan dua opsi utama dalam penanganan fenomena sinkhole atau amblesan tanah yang terjadi secara tiba-tiba di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.
Fenomena ini menjadi perhatian serius karena berpotensi menimbulkan risiko keselamatan bagi masyarakat serta berdampak terhadap lingkungan sekitar.
Ahli geologi teknik Badan Geologi Kementerian ESDM, Taufiq Wira Buana, menjelaskan bahwa kedua opsi tersebut telah disampaikan kepada pemerintah daerah dan masyarakat sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko bencana geologi. Penjelasan itu disampaikan saat dihubungi di Kota Padang pada Minggu (8/2).
“Secara umum ada dua pendekatan, yaitu membiarkan sinkhole terbuka atau melebar secara alami dengan pengamanan ketat, dan opsi kedua melakukan upaya pencegahan agar sinkhole tidak semakin melebar,” ujar Taufiq.
Opsi Pertama: Membiarkan Sinkhole Terbuka Secara Alami
Pada opsi pertama, Badan Geologi menekankan bahwa sinkhole tidak boleh ditutup secara sembarangan. Penutupan lubang tanpa kajian teknis justru dapat meningkatkan risiko runtuhan lanjutan dan membahayakan lingkungan di sekitarnya.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menghitung tingkat kestabilan lubang secara detail dan terukur. Dari hasil perhitungan tersebut, kemudian ditentukan radius aman yang harus dikosongkan dari aktivitas manusia, termasuk permukiman dan kegiatan pertanian.
Selain itu, pengelolaan air menjadi aspek yang sangat penting. Air yang muncul dari sinkhole harus dialirkan keluar melalui sistem drainase yang memadai. Badan Geologi menegaskan bahwa air tersebut tidak boleh dibiarkan meresap kembali ke tanah di sekitar sinkhole karena dapat mempercepat proses pelarutan batuan di bawah permukaan.
“Air sebaiknya dialirkan ke bagian yang lebih stabil, misalnya ke sungai di bagian hilir. Bahkan, jika memungkinkan, air tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku masyarakat, tentunya setelah dilakukan kajian kelayakan dan kualitas air,” jelas Taufiq.
Opsi Kedua: Mencegah Sinkhole Agar Tidak Melebar
Opsi kedua adalah melakukan upaya teknis untuk mencegah sinkhole agar tidak semakin melebar. Namun, langkah ini membutuhkan perencanaan matang dan dukungan dari tenaga ahli, khususnya dari bidang teknik sipil dan geoteknik.
Pada pendekatan ini, tebing sinkhole perlu diperkuat melalui rekayasa teknis, seperti pemasangan struktur penahan atau metode stabilisasi tanah tertentu. Tujuannya adalah mengurangi risiko longsoran lanjutan di sekitar lubang.
Selain itu, perlu dilakukan perhitungan dan perencanaan jumlah air yang boleh mengalir melalui sungai bawah tanah. Pengaturan aliran air ini penting agar tidak mengganggu kestabilan tanah baik di bagian hulu maupun hilir sinkhole.
Upaya Pengurangan Risiko Sinkhole
Dalam laporan kajian cepat yang disusun Badan Geologi Kementerian ESDM, terdapat sejumlah rekomendasi untuk mengurangi risiko kejadian sinkhole di wilayah rawan. Salah satu langkah utama adalah mengenali gejala-gejala awal sinkhole, seperti munculnya retakan tanah, penurunan permukaan tanah, atau perubahan aliran air secara tiba-tiba.
Masyarakat juga diimbau untuk mengurangi air yang meresap ke dalam tanah secara berlebihan, terutama di area yang dicurigai memiliki sungai bawah tanah. Penggunaan air yang tidak terkontrol dapat mempercepat proses pelarutan batuan dan memperbesar potensi amblesan.
Selain itu, pemilihan tanaman juga perlu diperhatikan. Badan Geologi menyarankan agar masyarakat menanam jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air di kawasan berisiko sinkhole. Saluran air rumah tangga pun harus dipastikan dalam kondisi baik agar air buangan tidak merembes ke tanah yang rentan.
Klarifikasi Isu Air Sinkhole
Terkait isu yang berkembang di masyarakat mengenai air sinkhole yang disebut-sebut memiliki khasiat tertentu, Taufiq menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar. Berdasarkan hasil uji laboratorium, kualitas air sinkhole tidak berbeda dengan air pada umumnya.
Adapun warna biru yang terlihat pada air sinkhole merupakan fenomena alam. Warna tersebut muncul akibat partikel-partikel kecil atau zat terlarut di dalam air yang menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang biru sehingga dapat ditangkap oleh mata manusia.
“Air berwarna biru itu adalah fenomena alam, bukan sesuatu yang bersifat mistis,” tegasnya.
Badan Geologi Kementerian ESDM berharap masyarakat tetap waspada, mengikuti arahan teknis, serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi agar risiko akibat fenomena sinkhole dapat diminimalkan.
- Penulis: markom kabarjatengterkini

