Petani di Klaten Didorong Terapkan Trap Barrier System (TBS) untuk Tekan Hama Tikus
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Sab, 20 Sep 2025
- visibility 76

Foto: Petani di Klaten Didorong Terapkan Trap Barrier System (TBS) untuk Tekan Hama Tikus (Sumber: Pemkab Klaten)
Klaten, Kabarjatengterkini.com – Petani di Klaten didorong menerapkan Trap Barrier System (TBS) untuk menekan sebaran hama tikus di sawah. Pasalnya, hama menjadi salah satu penghambat pertumbuhan padi.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten Iwan Kurniawan. Menurutnya, pengendalian hama perlu dilakukan untuk mencegah kerugian dan memastikan produk pertanian berkualitas.
Pengendalian hama bisa dilakukan dengan sejumlah metode, namun yang paling menjanjikan adalah TBS. Ini karena TBS dinilai lebih efektif dalam mengurangi populasi tikus di lahan persawahan, sekaligus termasuk ekonomis.
“Pengendalian hama dilakukan dengan tiga metode, yaitu mekanis dengan gropyokan dan TBS, biologis dengan penyebaran predator alami tikus seperti burung hantu dan ular, serta kimia. Dari ketiganya, TBS dinilai paling menjanjikan, karena langsung menekan populasi tikus di lapangan,” papar Iwan, Jumat (19/9/2025).
TBS diterapkan dengan pemasangan pagar berupa plastik fiber di sekeliling lahan tanam, dan memusatkan jalur masuk tikus yang telah dilengkapi perangkap berupa bubu kawat. Penerapan TBS didukung waktu tanam yang berbeda di setiap lahan guna menekan dampak kerusakan.
Menurut informasi, pemasangan TBS berkisar Rp700 ribu hingga Rp1 juta per patok, tergantung bahan. Untuk satu hektare lahan, kebutuhan biaya untuk penerapan TBS diperkirakan Rp3,5 juta sampai Rp4 juta. Meski demikian, metode ini bisa memanfaatkan galon bekas agar hemat.
Iwan turut mencontohkan salah satu daerah yang sudah menggunakan sistem ini, yakni area persawahan di Desa Jurangjero. Berdasarkan pemantauan TBS di desa tersebut, dampak hama tikus lebih terkendali.
“Di Jurangjero, ada beberapa lahan yang diterapkan TBS sebagai tanaman umpan, agar kerusakannya dapat dikendalikan. Setelah itu secara bertahap, lahan-lahan lain mulai ditanami padi,” ungkapnya.
DKPP berencana memasukkan TBS dalam program perlindungan tanaman tahun 2026. Harapannya, penerapan teknologi ini dapat menjadi solusi berkelanjutan, sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian di Klaten. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

