Siapa Pemilik PT IMIP? Bandara Tanpa Otoritas Negara Bikin Heboh
- account_circle markom kabarjatengterkini
- calendar_month Jum, 28 Nov 2025
- visibility 63

Kabarjatengterkini.com – Bandara Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menjadi sorotan publik setelah Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengunjungi lokasi pada 19 November 2025.
Sjafrie terkejut mengetahui bahwa bandara tersebut beroperasi tanpa kehadiran otoritas negara, termasuk petugas keamanan, bea cukai, dan imigrasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai tata kelola dan pengawasan di salah satu kawasan industri terbesar Indonesia yang mengelola nikel, stainless steel, dan carbon steel.
Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang mendampingi kunjungan Menhan menyatakan bahwa Bandara IMIP beroperasi sepenuhnya tanpa kehadiran pihak berwenang. Hal ini memicu pertanyaan terkait pemilik PT IMIP, perusahaan yang mengelola kawasan industri Morowali, sekaligus menjadi sorotan banyak pihak.
Siapa Pemilik PT IMIP?
PT IMIP dimiliki oleh tiga perusahaan, yakni Shanghai Decent Investment Group, PT Sulawesi Mining Investment, dan PT Bintang Delapan Investama. Menurut laman resmi PT IMIP, Shanghai Decent Investment Group memegang saham mayoritas sebesar 49,69 persen, sementara PT Sulawesi Mining Investment dan PT Bintang Delapan Investama masing-masing memiliki 25 persen dan 25,31 persen saham.
Isu keterlibatan Prabowo Subianto dalam PT Bintang Delapan Investama sempat beredar pada 2018. Namun, Andre Rosiade, yang kala itu menjabat anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, menegaskan bahwa 95 persen saham Bintang Delapan dimiliki Tsingshan, dan lima persen oleh putra daerah. Tidak ada bukti yang menunjukkan Prabowo berada di balik perusahaan tersebut.
Gurita Bisnis Perusahaan China di Indonesia
Shanghai Decent Investment Group, pemegang saham mayoritas PT IMIP, merupakan anak usaha Tsingshan Holding Group, produsen baja terbesar dunia yang didirikan taipan China, Xiang Guangda. Menurut Forbes, kekayaan bersih Xiang mencapai 4,2 miliar dolar AS (Rp 69,8 triliun) pada November 2025.
Tsingshan memiliki beberapa anak perusahaan di Indonesia, termasuk PT Tsingshan Steel Indonesia (PT TSI) dan PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (PT ITSS). Mereka mengoperasikan beberapa smelter dan membangun pembangkit listrik berkapasitas 2 x 65 Megawatt di Morowali untuk mendukung operasional smelter.
PT IMIP sendiri lahir dari kerja sama Tsingshan Group dan PT Bintang Delapan Investama melalui pendirian PT Sulawesi Mining Investment (PT SMI) pada 2009. PT SMI mengoperasikan pertambangan nikel seluas hampir 47.000 hektar di Kabupaten Morowali, dan kemudian membangun pabrik di Bahodopi, Morowali. Pendirian kawasan IMIP ditandatangani Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden China Xi Jinping pada Forum Bisnis Indonesia-China 3 Oktober 2013, serta diresmikan Presiden Joko Widodo pada 29 Mei 2015.
Deretan Kasus yang Melibatkan PT IMIP dan Anak Usahanya
- Pemecatan Buruh
PT Bintang Delapan Mineral (BDM) sempat memicu protes karena memecat 280 pekerja pada 2014. Pemecatan dipicu aksi mogok kerja buruh yang menyoroti upah yang tidak setara antara tenaga kerja asing asal China dan pekerja lokal. Tenaga kerja asing dibayar Rp 50.000 per hari, sedangkan pekerja lokal hanya Rp 39.000. - Ledakan Tungku Smelter
Tungku smelter milik PT ITSS meledak pada 24 Desember 2023, menewaskan 21 dari 59 korban. Sebanyak 13 korban merupakan pekerja Indonesia dan delapan tenaga kerja asing China. Polisi menetapkan dua TKA asal China sebagai tersangka karena kelalaian dalam prosedur operasi smelter. Ledakan serupa terjadi pada PT SMI dan PT ITSS pada 2024, menimbulkan korban luka bakar. - Dominasi Tenaga Kerja Asing
PT IMIP mendapat sorotan karena lebih banyak menyerap tenaga kerja asing dibanding lokal, didominasi warga negara China. Pada 2023, jumlah TKA di Kabupaten Morowali mencapai 26.038 orang, sebagian besar bekerja di kawasan industri PT IMIP.imip
Kontroversi Operasional Bandara IMIP
Kunjungan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyoroti fakta bahwa Bandara IMIP beroperasi tanpa kehadiran petugas bea cukai, imigrasi, dan keamanan negara. Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang pengawasan terhadap kawasan industri dan kepatuhan terhadap regulasi pemerintah.
PT IMIP, sebagai pengelola kawasan industri Morowali, tidak hanya menjadi pusat produksi nikel dan baja, tetapi juga sorotan publik karena isu tata kelola bandara dan penggunaan tenaga kerja asing. Dengan kepemilikan mayoritas oleh perusahaan China Tsingshan Holding Group, perusahaan ini menunjukkan pengaruh besar dalam industri pertambangan dan manufaktur di Indonesia. Kasus pemecatan buruh, ledakan smelter, dan dominasi tenaga kerja asing menambah sorotan terhadap praktik operasional perusahaan.
Pengawasan pemerintah terhadap PT IMIP dan anak usahanya menjadi penting, terutama menyangkut kepatuhan regulasi bandara, keselamatan kerja, dan perlindungan tenaga kerja lokal, demi menjaga keseimbangan antara investasi asing dan kepentingan nasional.
- Penulis: markom kabarjatengterkini

