Musim Penghujan Mulai Melanda, Masyarakat Diminta Waspada Penyakit Berikut
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Sab, 15 Nov 2025
- visibility 71

Foto: ilustrasi (Sumber: istock)
Kabarjatengterkini.com – Masyarakat Jawa Tengah diminta waspada terhadap penyakit yang sering terjangkit selama musim penghujan. Salah satunya, yakni leptospirosis yang meresahkan banyak orang lantaran bisa berakibat fatal.
Menurut informasi, leptospirosis merupakan penyakit yang berasal dari infeksi bakteri leptospira interrogans. Bakteri tersebut menginfeksi hewan seperti tikus, kemudian menularkan ke manusia melalui urine. Dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa mengakibatkan kematian.
Maka dari itu, pemerintah mengimbau agar masyarakat tetap menjaga kebersihan diri. Salah satu perilaku yang dianjurkan sebagai pencegahan leptospirosis adalah menggunakan sarung tangan dan alas kaki, serta cuci tangan dan kaki setelah berpergian di daerah banjir.
“Kita harus rajin mencuci tangan dan kaki, agar bakteri Leptospira tidak sempat masuk ke tubuh. Gunakan air mengalir dan sabun, jangan menggunakan air tampungan,” kata Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr Nani.
Labih lanjut, perhatian terhadap sanitasi lingkungan, pengendalian populasi tikus, serta waspada terhadap genangan air dan banjir.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Subkoordinator Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah, Zanuar Abidin menganjurkan penanggulangan leptospirosis dengan pendekatan One Health.
Pendekatan ini menekankan upaya kolaborasi antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan. Ini dinilai sangat relevan karena mengombinasikan deteksi dini, upaya promotif, serta respon cepat antarbidang dalam penanganannya.
Zanuar mengatakan, kolaborasi dan koordinasi yang baik, rencana aksi, implementasi, dan strategi, penanganan penyakit menjadi faktor keberhasilan pencegahan kasus leptospirosis.
“Harapannya pengendaliannya lebih sukses apabila sektor one health ini bisa terlibat, mulai dari perencanaan, pelaksanaan program, monitoring, dan evaluasi,” bebernya.
Menurutnya, kasus leptospirosis di Jawa Tengah masih menjadi perhatian serius, karena angka kejadian dan fatalitasnya yang fluktuatif. Berdasarkan data hingga September 2025, tercatat sebanyak 685 kasus leptospirosis di Jateng dengan 108 kematian. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

