Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Greenpeace Sebut Banjir Bandang di Sumatera Akibat Kegagalan Negara, Tiga Menteri Diminta Mundur

Greenpeace Sebut Banjir Bandang di Sumatera Akibat Kegagalan Negara, Tiga Menteri Diminta Mundur

  • account_circle markom kabarjatengterkini
  • calendar_month Jum, 5 Des 2025
  • visibility 49

Kabarjatengterkini.com, Sumatera, Indonesia – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera, menewaskan lebih dari 700 orang, bukan sekadar bencana alam biasa.

Menurut Greenpeace Indonesia, tragedi ini adalah bukti nyata kegagalan negara dalam menjaga lingkungan dan memicu tuntutan pertanggungjawaban dari tiga menteri terkait.

Koordinator Kampanye Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, secara tegas mendesak Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq untuk meminta maaf kepada publik dan mundur dari jabatannya.

“Ini bisa masuk kategori pembiaran. Karena itu tiga menteri ini harus meminta maaf dan mengundurkan diri,” tegas Iqbal, dikutip Kamis (4/12/2025).

Alasan Tuntutan Mundur

Iqbal menjelaskan bahwa ketiga menteri memiliki andil dalam carut-marut pengelolaan lingkungan yang memicu bencana ini:

  1. Menteri Kehutanan (Raja Juli Antoni): Bertanggung jawab atas pemberian izin penggunaan kawasan hutan dan lemahnya pengawasan di lapangan.
  2. Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia): Dinilai berperan dalam penerbitan izin pertambangan masif, baik di dalam maupun luar kawasan hutan, yang merusak daya dukung alam.
  3. Menteri Lingkungan Hidup (Hanif Faisol Nurofiq): Bertanggung jawab atas penerbitan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup), sebagai gerbang terakhir penilaian kelayakan sebuah izin.

Menurut Iqbal, lemahnya pengawasan dan kebijakan yang tidak berpihak pada lingkungan ini membuat bencana besar seperti banjir bandang dan longsor tidak bisa dihindari.

Menolak Narasi Takdir, Soroti Kayu Gergajian

Greenpeace menolak narasi bahwa bencana ini semata-mata takdir. Iqbal mencontohkan kasus di Batang Toru, kawasan perbukitan yang dipenuhi aktivitas tambang emas dan pembangunan pembangkit listrik. Bukaan lahan yang luas membuat tanah tidak mampu menahan air saat hujan deras, sehingga meningkatkan risiko longsor.

Selain itu, ia menyoroti temuan gelondongan kayu yang hanyut terbawa banjir. Menurut Iqbal, klaim pemerintah bahwa kayu tersebut hanyalah kayu lapuk atau tumbang alami tidak sesuai dengan bukti di lapangan.

“Tidak heran banyak gelondongan kayu. Meski Kementerian Kehutanan menyebut itu kayu lapuk, bukti di lapangan menunjukkan kayu-kayu yang sudah digergaji,” ujarnya.

Hal ini mengindikasikan adanya praktik pembalakan liar yang luput dari penegakan hukum, dan menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak bencana.

Politik Mengalahkan Sains

Iqbal juga menyoroti sikap pemerintah yang kerap menyepelekan peringatan para ilmuwan mengenai krisis iklim dan kerusakan lingkungan demi kepentingan politik.

“Yang paling menyedihkan bagi aktivis lingkungan adalah ketika prediksinya menjadi kenyataan. Kita selalu dibilang jangan mencari siapa yang salah. Ini bukan takdir semata, ini kegagalan kebijakan,” jelasnya.

Menurutnya, bencana yang menimpa Sumatera adalah hasil dari kegagalan kebijakan lingkungan, bukan sekadar fenomena alam. Aktivitas penambangan, pembukaan lahan hutan, dan lemahnya pengawasan menjadi kombinasi berbahaya yang memicu banjir bandang dan tanah longsor.

Dampak Bencana dan Kondisi Terkini

Banjir bandang dan longsor telah menghancurkan ribuan rumah, merusak infrastruktur publik, dan membuat ribuan warga mengungsi. Selain korban jiwa, bencana ini juga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan, termasuk kerusakan lahan pertanian, fasilitas pendidikan, dan jaringan listrik.

Greenpeace menekankan pentingnya reformasi kebijakan lingkungan, pengawasan ketat terhadap izin pertambangan, dan penegakan hukum terhadap pembalakan liar agar bencana serupa tidak terulang di masa depan.

Seruan untuk Perubahan

Iqbal mendesak pemerintah pusat untuk mengambil langkah proaktif, termasuk revisi kebijakan terkait izin pertambangan dan kawasan hutan, serta penegakan aturan lingkungan yang lebih tegas. Ia menegaskan, masyarakat dan korban bencana berhak mendapatkan keadilan dan perlindungan dari negara, bukan sekadar permintaan maaf.

“Bencana ini adalah alarm bagi kita semua. Pemerintah harus bertanggung jawab, bukan hanya mengandalkan doa atau narasi takdir. Lingkungan harus dijaga, hukum ditegakkan, dan kebijakan harus berpihak pada rakyat dan alam,” pungkasnya.

Banjir bandang dan longsor di Sumatera bukan hanya tragedi alam, tetapi juga cermin kegagalan pengelolaan lingkungan dan kebijakan negara. Greenpeace menuntut pertanggungjawaban tiga menteri, menyoroti praktik penebangan liar, dan menyerukan reformasi kebijakan agar bencana serupa tidak terulang.

Isu ini menjadi peringatan penting bagi pemerintah untuk menyeimbangkan pembangunan, ekonomi, dan kelestarian lingkungan demi keselamatan masyarakat.

 

  • Penulis: markom kabarjatengterkini

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Sudewo

    Kebijakan Strategis Pati : Salah Satunya Pemerataan Pembangunan Infrastruktur

    • calendar_month Jum, 5 Des 2025
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com – Bupati Sudewo paparkan kebijakan strategis dan program prioritas Kabupaten Pati ke pemerintah pusat. Kebijakan dan program tersebut akan berfokus pada pembangunan daerah untuk mendorong kesejahteraan masyarakat, serta menggerakkan roda perekonomian. Di antaranya melalui pemerataan pembangunan infrastruktur. “Ini adalah langkah strategis kami agar roda perekonomian masyarakat bergerak lebih cepat,” ujar Bupati Sudewo saat melakukan […]

  • Pertumbuhan Ekonomi Jateng Capai 5,28 Persen, Pemprov Siapkan Langkah Ini

    Pertumbuhan Ekonomi Jateng Capai 5,28 Persen, Pemprov Siapkan Langkah Ini

    • calendar_month Rab, 6 Agu 2025
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 150
    • 0Komentar

      Semarang, Kabarjatengterkini.com – Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan II 2025 mencapai 5,28 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari capaian pertumbuhan ekonomi nasional, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, capaian tersebut tak lepas dari kerja sama berbagai pihak dalam mengembangkan collaborative government. Metode ini harus terus digalakkan agar […]

  • jateng

    Angka Backlog Rumah di Jateng Masih Tinggi, Pemprov Dukung Program 3 Juta Rumah dari Pusat

    • calendar_month Sab, 2 Agu 2025
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 257
    • 0Komentar

      Semarang, Kabarjatengterkini.com – Angka kebutuhan (backlog) rumah di Jawa Tengah dinilai masih tinggi. Pada akhir tahun 2024, diketahui backlog kepemilikan masih mencapai 310.855 unit, sedangkan backlog kelayakan (rumah tidak layak huni) mencapai 1.132.968 unit. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin mengatakan bahwa selama tahun 2025 ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) berupaya mengurangi […]

  • persebaya

    Persebaya Kalah dari PSIM Yogyakarta di Pekan Pertama BRI Super League 2025/26

    • calendar_month Sab, 9 Agu 2025
    • account_circle markom kabarjatengterkini
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com — Hasil mengejutkan terjadi di laga pembuka BRI Super League musim 2025/26. Bertanding di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Persebaya harus mengakui keunggulan tim promosi PSIM Yogyakarta dengan skor tipis 0-1, Jumat (8/8) malam. Pertandingan yang digelar di hadapan puluhan ribu pendukung setia Persebaya, Bonek Mania, berakhir mengecewakan bagi tuan rumah. Meski […]

  • ahli

    Oat vs Gandum: Penjelasan Lengkap dari Ahli Gizi

    • calendar_month Jum, 7 Nov 2025
    • account_circle markom kabarjatengterkini
    • visibility 61
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com- Oat dan gandum merupakan dua jenis biji-bijian yang sering dijadikan bahan makanan sehari-hari, mulai dari sarapan hingga camilan sehat. Namun, banyak orang masih bingung apakah oat dan gandum sama atau memiliki perbedaan signifikan. Untuk itu, mari kita bahas lebih dalam berdasarkan pandangan ahli gizi dan nutrisi. Perbedaan Dasar Oat dan Gandum Secara ilmiah, oat […]

  • mikroplastik

    Risiko Mikroplastik dan Bahan Kimia Berbahaya dari Botol Plastik di Tempat Panas

    • calendar_month Sab, 13 Sep 2025
    • account_circle markom kabarjatengterkini
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com- Penggunaan botol plastik sebagai wadah minuman sehari-hari memang sangat praktis dan populer. Namun, sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa menyimpan botol plastik di tempat yang panas dapat menyebabkan kontaminasi mikroplastik dan bahan kimia berbahaya ke dalam minuman yang kita konsumsi. Temuan ini menjadi perhatian penting bagi kesehatan masyarakat dan mengingatkan kita untuk lebih bijak dalam […]

expand_less