Pendangkalan di Pesisir Pantai Banyutowo: Pengerukan Sedimentasi Bukan Solusi
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 4

Foto: Pantai Banyutowo (Sumber: Pemdes Banyutowo)
Pati, Kabarjatengterkini.com – Pesisir pantai di wilayah Desa Banyutowo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, mengalami pendangkalan karena sedimentasi lumpur. Kondisi ini terjadi sejak bulan Oktober hingga berdampak pada aktivitas nelayan tradisional.
“Tidak bisa menepi. Sejak pertengahan bulan Oktober,” kata Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mina Lestari, Desa Banyutowo, Sugiono, Rabu (04/11/2026).
Akibat kondisi tersebut, sekitar 60 sampai 70 nelayan tradisional di wilayah Desa Banyutowo tidak dapat melaut. Adapun solusi yang diharapkan tidak sekadar pengerukan, tetapi juga pembuatan dermaga agar nelayan bisa menepikan kapalnya.
“Solusinya dermaga. Kalau dikeruk ya percuma juga, sedimentasinya juga tinggi, kalau ombaknya bawa lumpur sehingga lumpurnya naik ke daratan,” lanjut dia.
Lebih lanjut, rata-rata nelayan tradisional di Banyutowo kini beralih menangkap ikan tongkol hingga lundu.
“Kalau nelayan tradisional itu ada yang ikan tongkol, ada ikan lundu jenisnya beda-beda,” ucapnya.
Pihak Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati turut menjelaskan permasalahan yang dialami nelayan Banyutowo. Ia membenarkan sedimentasi di wilayah pesisir cukup tinggi, sehingga nelayan kesulitan membawa hasil tangkapan ikan.
“Memang menjadi permasalahan utama di TPI banyutowo, sedimentasi yang cukup tinggi sehingga menyulitkan nelayan sehingga membawa tangkapannya langsung ke dermaga, atau ke parkiran kapal itu,” jelas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santoso.
Selama ini, pihaknya telah melakukan penanganan sementara dengan pengerukan sedimentasi. Meski demikian, hal tersebut belum menyelesaikan persoalan karena lumpur bisa kembali bersama dengan ombak laut, sehingga menambah sedimentasi.
“Kami sudah melakukan penanganannya antara lain tadi pengerukan sedimentasi (penanganan sementara) kami tahu itu tidak menyelesaikan masalah karena akan kembali lagi,” katanya.
Sebagai solusi jangka panjang, DKP Pati telah mengusulkan pembuatan pemecah ombak dan jembatan kepada DKP Provinsi Jawa Tengah. Perkiraannya, akan membutuhkan biaya hingga lebih dari Rp10 miliar.
“Yang kedua untuk membuat pemecah ombak, kemudian jembatan atau jeti dan kami sudh usul ke dkp provinsi untuk kedua usulan,” terang Hadi.
“Karena memang biayanya cukup besar biaya pembangunan itu, karena itu solusi utama, kami tahun lalu sudah mengusulkan itu, kira menelan mungkin ya sampai Rp10 miliar lebih, itu kira-kira lebarnya ada 120 meteran tambatan kapalnya,” tandasnya. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

