Tekan Ketergantungan Gas Impor, Pengembangan CNG Dikebut untuk Gantikan LPG
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Kam, 7 Mei 2026
- visibility 40

Foto: ilustrasi (Sumber: istock)
Kabarjatengterkini.com – Pemerintah RI mulai mulai kebut pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) atau gas melon 3 kg. Pergantian dari LPG ke CNG ditujukan untuk mengurangi ketergantungan impor gas.
Berdasarkan PP Nomor 64 Tahun 2012, CNG merupakan bahan bakar gas dari gas bumi dengan unsur utama metana (C1). Gas ini disimpan dalam bejana bertekanan tinggi guna mempermudah proses transportasi serta penimbunan. CNG dikompresi pada tekanan di atas 200 bar.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa CNG dinilai lebih ekonomis dibandingkan dengan LPG. Ini karena bahan dan industrinya tersedia di Indonesia, sehingga harganya cenderung lebih murah lantaran tidak perlu impor.
“CNG itu sudah dilakukan kajian. Harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30% lah lebih murah,” ujarnya, Selasa (5/5/2026), dikutip Detik.
“Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, di dalam negeri. Jadi, tidak kita melakukan impor. Cost transportasi-nya aja udah bisa meng-cover,” lanjut dia.
Sementara itu, pengembangan CNG 3 kg kemungkinan rampung dalam 2-3 bulan lagi. Pemerintah memastikan akan tetap memberikan subsidi agar harganya tetap terjangkau oleh masyarakat.
Diketahui, sebelumnya beban impor negara untuk memenuhi kebutuhkan konsumsi LPG mencapai Rp 130 triliun hingga Rp 140 triliun per tahun. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

