Menteri Israel Pamer Video Relawan GSF Diseret dan Dijambak, 9 WNI Ikut Ditahan
- account_circle markom kabarjatengterkini
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 15

Kabarjatengterkini.com– Sikap arogansi dan nirempati kembali dipertontonkan oleh jajaran petinggi rezim Zionis. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, dengan bangga mengunggah video yang menampilkan tindak kekerasan tentara Israel (IDF) terhadap para relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF).
Langkah provokatif ini memicu kecaman global yang meluas, termasuk kemarahan besar dari Pemerintah Italia serta ketegangan diplomatik dengan Indonesia.
Dalam video yang diunggah di akun X (sebelumnya Twitter) pribadinya pada Rabu (20/5/2026), Ben Gvir tanpa ragu memamerkan momen mengerikan saat aparat menjambak rambut seorang relawan perempuan. Di latar belakang video, tampak puluhan relawan kemanusiaan lainnya dipaksa dalam posisi berlutut hingga bersujud dengan tangan terikat ke belakang layaknya tawanan perang. Beberapa relawan bahkan terlihat ditarik dan diseret secara paksa di atas tanah.
Bukannya merasa prihatin atas tindakan represif aparatnya, Ben Gvir justru menjadikan penderitaan para aktivis kemanusiaan tersebut sebagai lelucon. Ia tampak tertawa-tawa sambil mengibarkan bendera Israel.
“ככה אנחנו מקבלים את תומכי הטרור. Welcome to Israel 🇮🇱 (Beginilah cara kami menyambut para pendukung teroris. Selamat datang di Israel),” tulis Ben Gvir dengan nada mengejek dalam keterangan videonya.
Cuitan bernada sarkastik tersebut segera memicu gelombang kemarahan global di jagat maya, memperpanjang daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia yang dipertontonkan secara terbuka oleh pejabat Israel.
Kecaman dari Dalam Negeri: “Anda Bukan Wajah Israel”
Tindakan provokatif Ben Gvir nyatanya tidak hanya memancing amarah dunia internasional, tetapi juga memicu perpecahan yang kian meruncing di internal kabinet Israel sendiri. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, secara terbuka melontarkan kritik tajam kepada rekannya sesama menteri.
Sa’ar menilai kelakuan Menteri Keamanan Nasional tersebut sengaja merugikan diplomasi negara melalui sebuah pertunjukan publik yang “memalukan”.
“Anda telah menghancurkan upaya luar biasa, profesional, dan sukses yang sudah dilakukan begitu banyak orang, dari tentara IDF hingga staf Kementerian Luar Negeri dan banyak pihak lainnya,” kecam Sa’ar melalui platform X.
Ia kemudian menutup pernyataannya dengan penegasan yang sangat tajam, “Tidak, Anda bukanlah wajah Israel.” Bersitegangnya dua menteri ini menunjukkan adanya keretakan serius di dalam pemerintahan Benjamin Netanyahu dalam merespons tekanan internasional.
PM Italia Murka, Tuntut Permintaan Maaf Resmi Israel
Video penyiksaan yang diunggah Ben Gvir langsung menyulut reaksi keras dari negara-negara asal para relawan, salah satunya Italia. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, mengutuk keras perlakuan tak manusiawi yang diterima oleh warga negaranya di atas kapal GSF. Meloni mendesak Israel untuk segera membebaskan warga negara Italia dan menuntut permintaan maaf resmi dari Tel Aviv.
“Tak bisa ditoleransi para pengunjuk rasa ini, yang di antaranya banyak warga negara Italia, diperlakukan seperti ini. Tindakan tersebut jelas melanggar martabat manusia,” tegas PM Meloni dalam konferensi pers daruratnya.
Pihak oposisi dan publik Italia pun mendesak pemerintah mereka untuk mengambil tindakan diplomatik yang lebih tegas, termasuk mengevaluasi hubungan bilateral jika keselamatan para relawan tidak dijamin.
Nasib Tragis 430 Relawan dan Penahanan 9 WNI
Armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang terdiri dari sekitar 50 kapal awalnya bertolak dari Turki barat daya pada Kamis (14/5/2026) pekan lalu. Misi utama mereka adalah menembus blokade ilegal di Jalur Gaza guna menyalurkan bantuan medis dan logistik darurat. Namun, kapal-kapal tersebut dicegat dan disergap secara brutal oleh pasukan laut Israel di perairan internasional.
Berdasarkan informasi terbaru hingga Rabu (20/5/2026), sebanyak 430 relawan GSF telah ditangkap dan dibawa secara paksa menuju Pelabuhan Ashdod di Israel selatan.
“Ke-430 aktivis telah dipindahkan ke kapal-kapal Israel dan sedang menuju Israel, di mana mereka dapat bertemu dengan perwakilan konsuler mereka,” ungkap seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, yang tetap berkilah dan menuduh bahwa operasi GSF hanyalah kedok untuk melayani kepentingan Hamas.
Dari ratusan relawan internasional yang ditahan, dikonfirmasi terdapat sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang turut menjadi korban penangkapan. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa situasi yang menimpa para WNI ini dipantau secara ketat. Menlu Sugiono memastikan bahwa ini bukan kasus penculikan biasa, melainkan penahanan sepihak oleh otoritas negara.
Pemerintah Indonesia secara tegas telah mengecam aksi pencegatan di perairan internasional ini dan terus menggerakkan seluruh saluran diplomatik guna mendesak otoritas Israel agar segera membebaskan seluruh WNI tanpa syarat.
Di Jakarta, berbagai organisasi masyarakat seperti Aqsa Working Group (AWG) turut mengecam keras pembajakan armada GSF. Mereka menyebut aksi sepihak Zionis ini sebagai pelanggaran berat terhadap hukum laut internasional. Tontonan kekerasan yang dipamerkan oleh Ben Gvir kini semakin menegaskan mendesaknya intervensi internasional dan PBB untuk menyelamatkan para relawan kemanusiaan yang disandera.
- Penulis: markom kabarjatengterkini

