Kasus Pembacokan di Tambakromo Pati: Korban Mengaku Diteror Sejak Tahun 2025
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 11

Foto: ilustrasi (Sumber: istock)
Pati, Kabarjatengterkini.com – Seorang pria di Pati, berinisial MAY atau A, diduga tega meneror dan membacok perempuan karena ditolak taaruf. Akibat perbuatannya, korban berinisial DS mengalami luka berat hingga dirawat di rumah sakit.
Peristiwa itu terjadi di rumah korban Desa Sinomwidodo, Kecamatan Tambakromo, Kamis (23/07/2026). Awalnya, pelaku masuk melalui pintu belakang rumah dengan membawa linggis untuk menyerang korban.
“Masuk di dalam rumah alatnya yang dibawa itu senjata lengkap, bawa linggis, bawa tali, bawa lakban,” ujar Rakimin kepada Mitrapost.com, Kamis siang.
Setelah terjadi aksi pembacokan itu, korban mengalami luka berat di kedua tangan, perut dan kaki. Korban kemudian dilarikan ke RSUD Soewondo Pati, sementara pelaku langsung dibawa ke Polresta Pati untuk menjalani proses hukum selanjutnya.
“Korban luka berat di 2 tangan, perut, kaki. Sekarang di rujuk di Soewondo,” terangnya.
“Karena itu tujuannya pembunuhan berencana ya dihukum yang seberat-beratnya, biar tidak meresahkan,” tambahnya lagi.
Sementara itu, sempat bergulir di media sosial mengenai hubungan antara korban dan pelaku yang disebut pernah menjalin asmara. Menanggapi hal tersebut, korban yang masih menjalani perawatan di rumah sakit segera melakukan klarifikasi.
DS menegaskan tidak pernah berpacaran dengan pelaku. Dia mengenal pelaku saat yang bersangkutan memesan jahitan kemeja dan celana. A juga mendapatkan nomor handphone-nya dari akun sosial media bisnisnya itu.
“Saya DS korban penganiayaan pembacokan saya mau menegaskan bahwa saya tidak memiliki hubungan dengan pelaku berinisial A,” jelas korban berinisial DS dalam video klarifikasi, Jumat (24/07/2026).
“Awal mula saya kenal dia, karena dia memesan jahitan kemeja dan celana pada saya, dia mendapatkan nomor saya dari akun sosmed tempat saya berjualan,” lanjut dia.
A sempat menyatakan cinta dan menawarkan DS untuk taaruf, namun DS berkali-kali menolaknya. Berawal dari penolakan tersebut, DS mengaku diancam lewat WhatsApp hingga datang ke rumahnya malam-malam pada 5 Juni lalu. Puncaknya, terjadi pembacokan pada 23 Juli lalu.
“Saya sudah diancam, di teror hampir selama satu tahun mulai dari Agustus 2025. Namun saya abaikan, saya sudah blokir semua nomor WA dan akun sosmed dia, tapi dia berusaha nekat menghubungi saya lewat banyak nomor dan meneror saya lagi,” terangnya.
“Dia juga pernah menelor saya datang ke rumah jam 11 malam, pada tanggal 5 Juni 2026 dengan membawa linggis,” lanjut dia lagi. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

