Menbud Fadli Zon Respon Tudingan Pelecehan Adat oleh GKR Rumbay
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Sab, 20 Des 2025
- visibility 88

Foto: Menbud Fadli Zon (Sumber: instagram)
Kabarjatengterkini.com – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon merespon tudingan pihak Pakubuwono (PB) XIV Purboyo terkait kunjungannya ke bangunan sakral Panggung Sanggabuwana beberapa waktu lalu yang dinilai melecehkan adat.
Dalam kesempatan lainnya, Fadli Zon menyebutkan bahwa dirinya sudah berkali-kali masuk ke bangunan tersebut. Selain itu, kunjungannya tersebut telah dipersilahkan oleh Panembahan Agung Tedjowulan dan Pakubuwono XIV Mangkubumi.
“Pertama saya sudah sudah berkali-kali naik ke Sanggabuwana itu. Malah saya diminta oleh Ketua Tim 5 Panembahan Agung Tedjowulan dan juga oleh KGPH Hangabehi (PB XIV Mangkubumi). Bahkan saya menggunakan beskap,” kata dia, Jumat (19/12/2025), dikutip Detik.
Lebih lanjut, kunjungannya ke Panggung Sanggabuwana bertujuan untuk meresmikan dan memastikan hasil revitalisasi bangunan berjalan baik. Sebelum direnovasi, situs cagar budaya itu disebut telah mengalami keropos dan temboknya lembab.
“Selain itu tentu kan kami yang merevitalisasi. Kita harus cek hasil pekerjaannya. Mulai dari temboknya, dari catnya, itu kan dari kita semua. Jadi, anggapan itu sama sekali keliru,” tuturnya.
“Kita sebagai bagian dari pemerintah yang melihat itu untuk melihat hasil kerjanya, apakah sesuai dengan harapan kita dan ternyata berjalan dengan baik,” lanjutnya.
Sebelumnya, kunjungan Kementerian Kebudayaan bersama Pakubuwono XIV Mangkubumi ke Panggung Sanggabuwan mengundang polemik. Saat kunjungan tersebut, keduanya diketahui masuk ke dalam bangunan itu.
Pengageng Sasana Wilapa dari pihak Pakubuwono XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay mengatakan, Panggung Sanggabuwani merupakan salah satu tempat yang sakral. Artinya, tidak sembarang orang bisa masuk ke menara tersebut tanpa diskusi atau rembukan lebih dahulu.
“Ya, setahu kami, itu tempat sakral yang dipergunakan hanya untuk raja dan orang-orang yang, sudah disumpah raja untuk melakukan upacara, itu saja,” kata dia, Rabu (17/12/2025).
“Kalau yang Sanggabuwana, kami tidak diajak rembukan untuk masalah mereka akan naik. Menurut saya sih itu pelecehan, pelecehan adat ya,” lanjutnya. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

