Pilihan Menu untuk Program MBG di Jateng Bakal Dievaluasi Setiap Hari
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Sab, 13 Jun 2026
- visibility 38

Foto: ilustrasi (Sumber: istock)
Kabarjatengterkini.com – Pilihan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan disalurkan kepada penerima manfaat di Jawa Tengah (Jateng), bakal dievaluasi. Adapun indikatornya menggunakan jumlah makanan yang tersisa setiap harinya.
Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Jawa Tengah (Jateng) menyebutkan, langkah ini dilakukan agar menu yang dibuat bisa lebih dinikmati. Hal ini juga bertujuan untuk mengurangi sampah makanan dari program tersebut.
Sementara, untuk menentukan pilihan menu MBG adalah dengan mengetahui jumlah makanan yang terbuang setiap hari. Banyaknya sisa makanan tertentu menunjukkan bahwa menu tersebut perlu dilakukan evaluasi.
“Harus tahu berapa sisa hasil sampah setiap hari. Ini yang menjadi dasar daripada suka atau tidak suka menunya yang dihasilkan,” kata Ketua BGN Jateng, Reza Mahendra, Jumat (12/6/226), dikutip Detik.
“Ini yang kemudian harus dievaluasi oleh kepala SPPG dan pengawas gizi di setiap SPPG untuk membuat menu yang harus bisa dinikmati,” lanjut dia.
Menurutnya, persoalan sisa makanan tidak hanya dipengaruhi oleh kualitasnya saja, tetapi juga kesesuaian antara selera dan kebutuhan dengan karakteristik penerima manfaat. Misalnya, kebutuhan balita tentu berbeda dengan anak sekolah maupun ibu hamil.
“Intinya ini bukan masalah apa ini menu tidak sesuai atau apa, ini kan masalah suka tidak suka berarti. Nah, suka tidak suka itu kan harus dilihat daripada selera di setiap penerima manfaatnya,” ucapnya.
“Harusnya ada perbedaan menu, jadi tidak bisa disamakan antara menu yang diberikan untuk peserta didik anak sekolah dengan menu yang diterima oleh balita,” tegasnya.
Ia juga menghendaki agar seluruh makanan yang sudah diproduksi dapat dikonsumsi oleh para penerima manfaat. Maka dari itu, pemilihan menu MBG perlu diawasi dengan ketat, termasuk oleh pengawas gizi hingga masyarakat.
“Karena tidak mungkin kita masak kemudian hasilnya tidak dihabiskan, kan sayang,” kata Reza.
“Makanya ketika itu menu tidak sesuai, kita juga butuh pengawasan dari masyarakat. Ketika ada temuan dilaporkan, kita periksa, kalau memang itu sudah terbukti,” lanjutnya. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

