TBC Masih Jadi Problem Nasional, Pemprov Jateng Upayakan Skrining Lewat Spelling
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Sab, 1 Nov 2025
- visibility 63

Foto: Program Spelling di Jateng (Sumber: Pemprov Jateng)
Kabarjatengterkini.com – Penyakit tuberculosis (TBC) dan stunting masih menjadi perhatian serius secara nasional. Kedua kondisi tersebut merupakan problema kesehatan yang memerlukan penanganan cepat dan tepat.
Hal ini turut diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI Pratikno. Menurutnya, penanganan tersebut memerlukan peran sentral dari Ahli Kesehatan Masyarakat.
“Jadi ini permasalahan kita bersama, dan memerlukan penanganan yang sangat cepat. Presiden sudah perintahkan kepada kabinet untuk percepatan,” katanya, Jumat (31/10/2025).
“Nah inilah peran sentral dari para ahli kesehatan masyarakat, yang pendekatannya tidak hanya dengan perangkat teknis medis yang klinikal, tetapi juga sosial dan gaya hidup, termasuk kesehatan hewan dan kesehatan alam,” lanjut dia.
Pihaknya juga ingin pemerintah daerah lebih serius dalam menghadapi ancaman penyakit menular (zoonis) dari hewan ke manusia, seperti rabies, hingga malaria dan demam berdarah. Bahkan, tingkat kewaspadaan harus diperkuat di lingkungan yang sulit mendapat akses tenaga medis,
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa di wilayahnya sudah berjalan program Spelling atau dokter spesialis keliling. Program ini turut mendukung program nasional Cek Kesehatan Gratis.
Pihaknya bekerja sama dengan rumah sakit dan kampus untuk turut menghadirkan dokter spesialis yang menjangkau ke desa-desa. Hingga 13 Oktober 2025, program itu telah menjangkau 595 desa di 35 kabupaten/ kota dengan total 64.278 jiwa penerima manfaat.
“Termasuk kampus kami libatkan, dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematiknya,” kata Luthfi.
Dokter juga melakukan skrining (pelacakan) penderita TBC lewat program ini. Skrining dilakukan menggunakan alat portable pemeriksaan tuberkolosis. Meski demikian, jumlah alatnya dinilai masih sangat terbatas.
“Program Speling kita sangat dirasakan oleh masyarakat. Untuk TBC kita butuh alat yang mobilitasnya bisa mencapai desa, saat ini masih kurang,” lanjut dia. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

