Dow Jones Cetak Rekor Fantastis, Investor Waspadai Dampak Shutdown AS
- account_circle markom kabarjatengterkini
- calendar_month Kam, 13 Nov 2025
- visibility 62

Kabarjatengterkini.com- Pasar saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup bervariasi pada Rabu (12/11/2025). Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) mencetak rekor penutupan tertinggi, sementara Nasdaq justru melemah akibat aksi rotasi investor dari saham teknologi menuju sektor keuangan dan kesehatan.
Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh perkembangan politik terkait potensi berakhirnya penutupan pemerintahan AS (government shutdown).
Kinerja Indeks Utama Wall Street
Mengutip laporan Reuters, indeks S&P 500 naik tipis sebesar 0,06 persen dan menutup sesi perdagangan di level 6.850,92 poin. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 0,26 persen menjadi 23.406,46 poin. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average menguat 0,68 persen dan berakhir di level 48.254,82 poin, menandai rekor penutupan tertinggi untuk dua hari berturut-turut.
Kenaikan Dow Jones terutama ditopang oleh penguatan saham Goldman Sachs dan UnitedHealth Group, yang masing-masing naik sekitar 3,5 persen. Dengan kenaikan tersebut, indeks Dow Jones telah tumbuh sekitar 13 persen sepanjang tahun 2025, sedikit tertinggal dari S&P 500 yang naik hampir 17 persen.
Fokus Investor pada Isu Penutupan Pemerintahan
Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (House of Representatives) dijadwalkan melakukan pemungutan suara terhadap paket pendanaan sementara untuk mengakhiri penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah AS. Paket ini bertujuan mengaktifkan kembali bantuan pangan, membayar ratusan ribu pegawai federal, dan memulihkan sistem pengendalian lalu lintas udara yang lumpuh akibat shutdown.
Namun, Presiden AS Donald Trump masih harus menandatangani kesepakatan tersebut agar bisa menjadi undang-undang.
“Langkah ini seharusnya berdampak positif secara sentimen karena menghapus salah satu risiko utama yang ada. Berfungsinya kembali pemerintahan federal, FAA, dan sistem penerbangan sangat penting bagi kinerja ekonomi riil,” ujar Bill Northey, Direktur Investasi Senior di U.S. Bank Wealth Management, dikutip dari Reuters.
Sektor Keuangan dan Kesehatan Jadi Penopang Pasar
Dari 11 sektor utama di S&P 500, enam sektor ditutup menguat, dipimpin oleh sektor kesehatan yang naik 1,36 persen, disusul sektor keuangan yang menguat 0,9 persen. Investor tampak mulai beralih dari saham teknologi berharga tinggi ke sektor yang lebih defensif seperti kesehatan dan perbankan.
“Kita melihat adanya rotasi dari kepemimpinan saham berbasis Nasdaq menuju sektor lain yang kinerjanya cukup baik, seperti kesehatan dan keuangan. Komponen penting untuk memperluas pasar adalah pertumbuhan laba yang juga meluas,” ujar Matt Stucky, Manajer Portofolio Ekuitas Senior di Northwestern Mutual.
Saham Teknologi Melemah, AMD Jadi Pengecualian
Sementara itu, saham-saham teknologi besar di Wall Street melemah. Amazon dan Tesla masing-masing turun sekitar 2 persen, Palantir anjlok 3,6 persen, dan Oracle turun 3,9 persen.
Sebaliknya, saham AMD melonjak 9 persen setelah perusahaan semikonduktor tersebut mengumumkan target pendapatan pusat data senilai USD 100 miliar, yang memicu optimisme terhadap pertumbuhan bisnis chip di sektor kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, penjualan saham Nvidia senilai USD 5,8 miliar oleh SoftBank Group pada Selasa (11/11) mengguncang pasar saham global. Aksi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa euforia seputar kecerdasan buatan (AI) telah mencapai puncaknya. Investor kini menanti laporan keuangan Nvidia pekan depan, yang diperkirakan akan menjadi uji penting bagi sentimen pasar terhadap sektor AI.
Dampak Penutupan Pemerintahan terhadap Ekonomi AS
Penutupan pemerintahan yang berkepanjangan telah membebani perekonomian AS. Banyak lembaga pemerintah yang tidak beroperasi penuh, menyebabkan kekosongan data ekonomi penting bagi Federal Reserve (The Fed) dan pelaku pasar.
Laporan mingguan ADP menunjukkan bahwa pengusaha swasta kehilangan rata-rata 11.250 pekerjaan per minggu selama empat minggu terakhir hingga 25 Oktober 2025, menandakan pelemahan yang berlanjut di pasar tenaga kerja.
Kondisi ini membuat pelaku pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 0,25 persen pada pertemuan kebijakan moneter Desember mendatang. Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga tersebut mencapai 65 persen.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve Atlanta, Raphael Bostic, mengumumkan rencana pensiun pada Februari 2026, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa Presiden Trump ingin memperluas pengaruhnya terhadap kebijakan bank sentral.
Volume Perdagangan dan Aktivitas Pasar
Volume perdagangan saham di bursa AS tercatat lebih ringan dari biasanya, dengan 17,2 miliar saham berpindah tangan, dibandingkan rata-rata 20,5 miliar saham dalam 20 sesi terakhir.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik 1,5 kali lebih banyak dibandingkan yang turun di dalam indeks S&P 500. Indeks tersebut mencatat 36 rekor tertinggi baru dan dua rekor terendah, sementara Nasdaq membukukan 102 rekor tertinggi dan 103 rekor terendah.
Prospek Pasar ke Depan
Meski Wall Street ditutup bervariasi, sebagian analis menilai bahwa tren jangka menengah masih positif. Kinerja kuat sektor keuangan dan kesehatan, ditambah dengan potensi berakhirnya government shutdown, dinilai akan memperkuat stabilitas pasar.
Namun, risiko dari sektor teknologi dan ketidakpastian kebijakan The Fed masih bisa menekan pergerakan indeks dalam waktu dekat. Laporan pendapatan perusahaan teknologi besar, terutama Nvidia, akan menjadi penentu arah berikutnya bagi sentimen pasar saham AS.
- Penulis: markom kabarjatengterkini

