Trump dan Xi Jinping Sepakat Redam Ketegangan Iran dalam Pertemuan di Beijing
- account_circle markom kabarjatengterkini
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4

Kabarjatengterkini.com– Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi meninggalkan China pada Jumat (15/5/2026) waktu setempat, usai menyelesaikan kunjungan kerja selama dua hari yang dinilai krusial bersama Presiden China Xi Jinping.
Pertemuan dua pemimpin negara dengan ekonomi terbesar dunia itu menghasilkan sejumlah kesepahaman penting, terutama terkait upaya meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Trump bertolak dari Bandara Internasional Beijing Capital menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One. Sebelum keberangkatan, ia terlebih dahulu menghadiri jamuan resmi berupa teh dan makan siang bersama Xi Jinping di Zhongnanhai, kompleks kediaman resmi pemimpin China yang sarat nilai sejarah dan simbol politik.
Upacara Kenegaraan di Bandara Beijing
Prosesi pelepasan Presiden Trump berlangsung dengan pengamanan ketat serta upacara kenegaraan yang formal. Menteri Luar Negeri China Wang Yi secara langsung mengantar Trump hingga ke landasan pacu. Di lokasi, pasukan militer China berdiri tegak memberikan penghormatan, sementara kelompok pelajar mengibarkan bendera Amerika Serikat dan China sebagai simbol persahabatan diplomatik.
Momen tersebut menegaskan pentingnya hubungan bilateral kedua negara, meski keduanya kerap berada pada posisi berbeda dalam sejumlah isu global.
Diplomasi Hangat di Zhongnanhai
Dalam jamuan teh bersama Presiden Xi Jinping, Trump kembali menyoroti hubungan pribadinya dengan pemimpin China tersebut. Ia menyebut hubungan keduanya berjalan “sangat kuat” di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang.
Sementara itu, Xi Jinping menjelaskan bahwa pemilihan Zhongnanhai sebagai lokasi pertemuan memiliki makna historis. Kompleks tersebut merupakan kediaman tradisional para pemimpin China dan menjadi simbol kontinuitas pemerintahan negara tersebut.
Xi juga mengungkapkan bahwa jamuan tersebut merupakan bentuk balas budi atas sambutan hangat Trump di resor Mar-a-Lago, Florida, pada 2017 silam.
“Saya memilih tempat ini secara khusus untuk membalas keramahan yang pernah diberikan kepada saya,” ujar Xi Jinping dalam pertemuan tersebut.
Fokus Utama: Redam Ketegangan di Timur Tengah
Di luar agenda seremonial, substansi utama pertemuan ini berfokus pada situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait isu nuklir Iran dan stabilitas jalur perdagangan global.
Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat dan China memiliki pandangan yang sejalan dalam mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Kedua negara juga sepakat untuk menjaga agar Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas perdagangan internasional.
“Kami ingin semuanya diakhiri karena situasinya gila di sana. Itu tidak baik dan tidak boleh terjadi,” ujar Trump kepada awak media di sela-sela kegiatan diplomatik di Beijing.
Kesepakatan ini menjadi salah satu titik penting dalam upaya meredakan ketegangan global yang sempat meningkat pasca-serangan militer AS dan Israel ke Iran pada Februari 2026. Konflik tersebut sebelumnya memicu serangan balasan dari Teheran serta gangguan pada jalur perdagangan minyak dunia di kawasan Teluk.
Latar Belakang Ketegangan Global
Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah serangan militer terhadap Iran yang terjadi pada 28 Februari 2026. Aksi tersebut memicu eskalasi konflik, termasuk serangan balasan terhadap aset-aset sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Situasi sempat memanas hingga menyebabkan penutupan sementara Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia, sebelum akhirnya dicapai kesepakatan gencatan senjata tanpa batas waktu.
Dalam konteks ini, pertemuan Trump–Xi dinilai sebagai upaya penting untuk menstabilkan kembali kondisi geopolitik global yang sempat bergejolak.
Kunjungan Bersejarah Setelah Sembilan Tahun
Kunjungan Donald Trump ke China kali ini juga mencatat sejarah tersendiri. Ini merupakan kunjungan resmi pertama presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat ke China dalam sembilan tahun terakhir. Terakhir kali Trump mengunjungi Beijing adalah pada 2017, saat periode pertama kepresidenannya.
Awalnya, kunjungan ini dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026. Namun, meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah membuat agenda diplomatik tersebut harus ditunda hingga pertengahan Mei.
Hubungan AS–China Masih Penuh Tantangan
Meski terdapat kesepakatan penting terkait isu Iran, hubungan Amerika Serikat dan China masih diwarnai sejumlah tantangan. Beijing secara konsisten menyerukan penyelesaian damai dalam berbagai konflik global, termasuk di Timur Tengah.
Namun di sisi lain, Washington masih menyuarakan kekhawatiran terkait dugaan dukungan tidak langsung China terhadap kemampuan ekonomi dan militer Iran selama konflik berlangsung.
Ketegangan ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat kerja sama diplomatik di beberapa isu strategis, hubungan kedua negara masih berada dalam dinamika persaingan geopolitik yang kompleks.
- Penulis: markom kabarjatengterkini

