IHSG Melemah ke Level 7.895 di Tengah Ketegangan Aksi Demo dan Insiden Rantis Polisi
- account_circle markom kabarjatengterkini
- calendar_month Jum, 29 Agu 2025
- visibility 74

Jakarta, Kabarjatengterkini.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada awal perdagangan hari ini, Jumat (29/8/2025), seiring ketidakpastian yang kembali mencuat akibat meningkatnya tensi politik dan sosial dalam negeri. IHSG turun 56,19 poin atau 0,71 persen ke level 7.895,89 setelah sempat menembus rekor psikologis 8.000 pada perdagangan sebelumnya.
Pelemahan IHSG pagi ini turut diikuti oleh penurunan indeks LQ45 yang turun 6,05 poin atau 0,75 persen ke level 805. Koreksi ini menjadi sinyal kehati-hatian investor yang menyoroti dinamika sosial-politik yang sedang berlangsung di Indonesia, terutama aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi sejak Kamis (28/8).
Aksi Demo Berujung Insiden, Tekanan Psikologis Melanda Pasar
Kekhawatiran investor meningkat menyusul aksi demo di depan Gedung DPR yang berlangsung sejak Kamis pagi hingga Jumat dini hari. Situasi di lokasi demo memanas setelah terjadi bentrokan antara aparat dan massa.
Puncak ketegangan terjadi ketika sebuah kendaraan taktis (rantis) milik polisi melindas seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan (21) yang sedang melintasi kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis malam. Affan dilaporkan tengah mengantar pesanan makanan dan tidak terlibat dalam aksi demonstrasi. Namun naas, ia menjadi korban dalam kekacauan tersebut dan meninggal dunia di tempat.
Insiden ini memicu gelombang reaksi negatif dari publik, terutama di media sosial. Tagar #KeadilanUntukAffan menjadi trending, yang turut memberi tekanan psikologis pada pasar modal. Investor cenderung mengambil langkah wait and see di tengah situasi yang belum kondusif.
IHSG Koreksi Setelah Cetak Rekor 8.000
Penurunan IHSG hari ini cukup kontras dibandingkan capaian sebelumnya. Pada perdagangan Kamis (28/8), IHSG sempat menembus level 8.000, level psikologis yang belum pernah tercapai sebelumnya.
Namun, euforia tersebut hanya bertahan singkat. Ketidakpastian akibat isu sosial dan keamanan membuat banyak investor merealisasikan keuntungan (profit taking). Tekanan jual terlihat di berbagai sektor, termasuk perbankan, infrastruktur, dan properti.
Analis memperkirakan pergerakan IHSG dalam jangka pendek akan dipengaruhi oleh respons pemerintah terhadap insiden Affan, arah kebijakan fiskal, serta bagaimana sentimen global bergerak terhadap emerging market seperti Indonesia.
Rupiah Justru Menguat di Tengah Ketegangan Domestik
Di sisi lain, pasar valuta asing menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Bloomberg pukul 08:58 WIB, nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) menguat 15,50 poin atau 0,09 persen ke Rp 16.352 per USD.
Penguatan rupiah ini dinilai sebagai respons terhadap melemahnya indeks dolar AS secara global serta optimisme terhadap ketahanan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah. Meski terjadi ketegangan sosial domestik, pelaku pasar global masih melihat fundamental makroekonomi Indonesia relatif stabil.
Analis juga mencatat bahwa penguatan rupiah ini bisa bersifat sementara apabila ketidakpastian politik dan keamanan tidak segera diredam oleh pemerintah.
Bursa Asia Bergerak Campuran
Pasar saham di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada pagi ini. Beberapa indeks utama Asia mengalami koreksi, sementara lainnya menguat terbatas:
-
Indeks Nikkei 225 (Jepang) turun 130 poin atau 0,30 persen ke level 42.698.
-
Indeks Hang Seng (Hong Kong) naik 116,31 poin atau 0,47 persen ke 25.115.
-
Indeks Shanghai Composite (China) tidak tersedia datanya hingga berita ini diturunkan.
-
Indeks Straits Times (STI) (Singapura) menguat 10,61 poin atau 0,25 persen ke 4.264.
Pergerakan bursa Asia ini turut memengaruhi sentimen regional terhadap IHSG. Ketidakpastian dari data ekonomi China yang belum tersedia juga membuat investor global lebih berhati-hati.
Proyeksi Perdagangan Selanjutnya
Melihat kondisi saat ini, analis pasar modal memperkirakan IHSG masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa hari ke depan. Arah pergerakan akan sangat bergantung pada:
-
Stabilitas sosial dan keamanan pasca insiden meninggalnya Affan Kurniawan.
-
Pernyataan resmi pemerintah dan langkah penanganan konflik sosial.
-
Data ekonomi global, termasuk rilis data inflasi dan ketenagakerjaan dari AS.
-
Sikap investor asing, terutama aliran dana yang masuk atau keluar dari pasar domestik.
Bagi investor ritel, kondisi ini menjadi pengingat pentingnya manajemen risiko. Dalam situasi seperti ini, pendekatan investasi jangka panjang dengan diversifikasi portofolio sangat dianjurkan.
Melemahnya IHSG di awal perdagangan Jumat (29/8) mencerminkan kecemasan pasar terhadap situasi sosial dan politik yang belum stabil. Di tengah tragedi yang menimpa Affan Kurniawan, pelaku pasar berharap adanya respons cepat dari pemerintah demi menjaga kepercayaan investor.
Sementara itu, penguatan rupiah dan pergerakan bursa Asia yang campuran menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki peluang untuk pulih, asalkan ketegangan di dalam negeri bisa segera diatasi.
- Penulis: markom kabarjatengterkini

