Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Fenomena “Tembok Ratapan Solo”: Anak Muda Menyindir Jokowi Lewat Kreativitas Digital

Fenomena “Tembok Ratapan Solo”: Anak Muda Menyindir Jokowi Lewat Kreativitas Digital

  • account_circle markom kabarjatengterkini
  • calendar_month Kam, 19 Feb 2026
  • visibility 58

Kabarjatengterkini.com- Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menilai fenomena yang dikenal sebagai “Tembok Ratapan Solo” di rumah Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo, merupakan bentuk sindiran anak muda terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Sindiran ini muncul karena Jokowi dianggap masih ingin mempertahankan eksistensi di panggung politik nasional meski masa jabatan kepresidenannya telah berakhir dua periode.

“Gaya baru yang saya maksud adalah publik seakan belum ingin Jokowi selesai memimpin Indonesia, meskipun sudah dua periode,” ujar Iwan kepada inilah.com pada Rabu (18/2/2026). Menurutnya, fenomena ini tercermin dari kunjungan masyarakat dari berbagai daerah yang datang setiap hari ke kediaman Jokowi.

“Meskipun hanya sekadar bersalaman dan berfoto, hal ini dinilai berlebihan oleh publik. Menurut saya, ini salah satu strategi untuk mempertahankan publikasi, popularitas, dan approval rating Jokowi,” jelas Iwan. Ia menambahkan bahwa kepentingan politik Jokowi ke depan adalah membesarkan partai politiknya, PSI, serta mendukung eksekusi putranya, Gibran, sebagai calon Wakil Presiden. Strategi ini, menurut Iwan, juga menjadi pertimbangan untuk kepentingan politik pada 2029 mendatang.

Fenomena “Tembok Ratapan Solo” sebelumnya menarik perhatian publik karena cara uniknya. Rumah Jokowi di Jalan Kutai Utara No 1, Solo, mendadak menjadi panggung satire digital. Anak-anak muda datang, menempelkan tangan mereka ke pagar kayu rumah Jokowi, lalu menundukkan kepala seolah sedang meratap. Bahkan, di Google Maps, kediaman ini sempat ditandai dengan nama “Tembok Ratapan Solo”, meski kini penandaan tersebut sudah hilang dari pencarian.

Video yang diunggah akun Instagram @indopium memperlihatkan sejumlah anak muda melakukan aksi simbolis ini, dan video tersebut cepat menjadi viral. Semakin banyak orang yang datang, konten pun beranak-pinak di media sosial. Fenomena ini menandai cara baru generasi muda mengekspresikan kritik politik tanpa harus berada di panggung demonstrasi atau orasi publik.

Menurut pengamat, menyebut fenomena ini sekadar kreativitas ringan akan meremehkan maknanya. Aksi ini bisa dikatakan satire sosial yang lahir dari keresahan generasi muda yang tidak lagi percaya pada podium politik dan baliho kampanye. Mereka memilih pagar rumah Jokowi sebagai simbol kritik terhadap warisan kepemimpinan lama.

Di sisi lain, data fiskal Indonesia memperlihatkan beban pemerintahan yang cukup berat yang diwariskan dari era Jokowi. Per Agustus 2024, dua bulan menjelang berakhirnya masa jabatan Jokowi, utang pemerintah tercatat sebesar Rp8.461,93 triliun, setara 38,49 persen terhadap PDB. Pada 31 Desember 2025, angka ini meningkat menjadi Rp9.637,90 triliun atau 40,46 persen terhadap PDB. Beban utang ini kini menjadi tanggung jawab pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Selain utang pokok, terdapat kewajiban jatuh tempo yang rata-rata mencapai Rp500 triliun hingga Rp600 triliun per tahun, belum termasuk bunga. Termasuk juga cicilan proyek kereta cepat yang mencapai Rp1,2 triliun per tahun. Kondisi ini menunjukkan kompleksitas fiskal yang harus ditangani pemerintah baru, di samping tantangan politik.

Selain tekanan fiskal, pemerintahan baru juga menghadapi bayang-bayang pengaruh loyalis Jokowi yang masih menempati posisi strategis, mulai dari kementerian hingga kursi komisaris BUMN. Setiap kebijakan baru kerap dituding sebagai kelanjutan dari rezim lama. Upaya efisiensi birokrasi pun sering dianggap berjalan di tempat, sehingga menimbulkan pertanyaan publik apakah benar telah terjadi perubahan arah pemerintahan.

Dalam konteks ini, “Tembok Ratapan Solo” bukan sekadar aksi iseng atau konten viral. Pagar kayu rumah Jokowi menjadi medium simbolis bagi generasi muda untuk menyampaikan kritik dan aspirasi mereka. Kreativitas, satire, dan ekspresi digital menjadi alat untuk menyoroti warisan masalah dari satu dekade kepemimpinan Jokowi, sekaligus menunjukkan kekuatan opini publik di era media sosial.

Fenomena ini menunjukkan dinamika unik politik Indonesia di era pasca-Jokowi, di mana generasi muda menggunakan simbol dan kreativitas digital untuk menyuarakan pandangan politik mereka. “Tembok Ratapan Solo” menjadi contoh nyata bagaimana budaya digital dan kritik politik berpadu, menciptakan narasi baru yang tidak hanya menarik perhatian tetapi juga memicu diskusi tentang warisan kepemimpinan dan arah politik Indonesia ke depan.

  • Penulis: markom kabarjatengterkini

Rekomendasi Untuk Anda

  • lumajang

    Warga Lumajang Meninggal Mendadak Saat Nonton Karnaval Sound Horeg, Bupati Pastikan Acara Berizin

    • calendar_month Sel, 5 Agu 2025
    • account_circle markom kabarjatengterkini
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com — Sebuah insiden mengejutkan terjadi saat acara karnaval sound horeg di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Sabtu (2/8/2025) malam. Seorang perempuan bernama Anik Mutmainnah (39 tahun) tiba-tiba jatuh lemas dan meninggal dunia saat menyaksikan pertunjukan musik dalam acara tersebut. Peristiwa tragis ini sontak menghebohkan warga sekitar dan viral di media sosial, setelah sebuah […]

  • SPPG Kadirejo Semarang Serap Pekerja Lokal dan Hasil Panen Petani untuk Kembangkan Ekonomi Masyarakat

    SPPG Kadirejo Semarang Serap Pekerja Lokal dan Hasil Panen Petani untuk Kembangkan Ekonomi Masyarakat

    • calendar_month Rab, 24 Sep 2025
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 140
    • 0Komentar

      Semarang, Kabarjatengterkini.com – Stasiun Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kadirejo, Kecamatan Pabelan serap pekerja lokal dan hasil panen petani. Hal ini dinilai bisa memberikan dampak pada pengembangan ekonomi masyarakat setempat. Diketahui, SPPG yang baru beroperasi selama dua hari itu telah menyerap sebanyak 50 karyawan, sementara sekitar 80% berasal dari warga setempat. Selain itu, sebanyak 200-250 […]

  • Ada Penambangan di Lereng Gunung Slamet, Kepala Cabang Dinas ESDM Jateng: Sudah Kantongi Izin

    Ada Penambangan di Lereng Gunung Slamet, Kepala Cabang Dinas ESDM Jateng: Sudah Kantongi Izin

    • calendar_month Sel, 9 Des 2025
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com – Viral video di media sosial menunjukkan aktivitas penambangan di lereng Gunung Slamet, tepatnya Desa Gandatapa, Sumbang, Banyumas. Hal ini turut menjadi sorotan warganet agar tambang tersebut ditutup karena dikhawatirkan menyebabkan bencana alam. Menanggapi hal tersebut, Kepala Cabang Dinas ESDM Pemprov Jateng Wilayah Slamet Selatan, Mahendra Dwi Atmoko membenarkan adanya aktivitas penambangan di wilayah […]

  • pencabutan

    Menteri Sekretaris Negara Tanggapi Pencabutan Kartu Wartawan Istana CNN

    • calendar_month Sen, 29 Sep 2025
    • account_circle markom kabarjatengterkini
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com– Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, memberikan tanggapan terkait isu pencabutan kartu identitas wartawan istana milik seorang jurnalis CNN Indonesia. Prasetyo menegaskan bahwa saat ini pihaknya tengah mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara yang konstruktif dan komunikatif. Dalam keterangannya kepada wartawan pada Minggu, 28 September 2025, Prasetyo mengatakan, “Ya kita cari […]

  • Gubernur Jateng Ungkap Program Lingkungan yang Bisa Bersinergi dengan Masyarakat

    Gubernur Jateng Ungkap Program Lingkungan yang Bisa Bersinergi dengan Masyarakat

    • calendar_month Kam, 12 Feb 2026
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi ungkap sejumlah program yang bisa disinergikan dengan masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan. Salah satu program prioritas Pemprov Jateng adalah ‘Mageri Segoro’. Adapun ‘Mageri Segoro’ merupakan program yang bertujuan untuk memulihkan ekosistem pesisir dan mencegah abrasi melalui penanaman mangrove secara masif dan serentak. Penanaman bibit mangrove sebagai pagar laut […]

  • bekerja

    Jokowi Siap Bekerja Keras untuk PSI: Antara Loyalitas dan Strategi Politik Keluarga

    • calendar_month Sen, 2 Feb 2026
    • account_circle markom kabarjatengterkini
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com- Pernyataan mengejutkan Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi), yang menegaskan kesiapannya bekerja keras bahkan “mati-matian” untuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI), memicu beragam interpretasi di kalangan pengamat politik. Tidak sekadar menunjukkan loyalitas politik, beberapa analis menilai pidato Jokowi dalam Rakernas PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026), menyimpan pesan politik yang lebih kompleks. Peneliti Politika […]

expand_less