Trump Ungkap Operasi Militer AS-Israel di Iran, Diproyeksikan Berlangsung 4–5 Pekan
- account_circle markom kabarjatengterkini
- calendar_month Sel, 3 Mar 2026
- visibility 45

Kabarjatengterkini.com- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka membeberkan skenario operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel di Iran.
Dalam pernyataan terbarunya, Trump menyebut agresi militer tersebut diproyeksikan berlangsung selama empat hingga lima pekan, meski ia menegaskan bahwa AS memiliki kapasitas tempur untuk melanjutkan perang dalam jangka waktu yang jauh lebih lama.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam keterangan yang dilaporkan Al Jazeera, Selasa (3/3/2026). “Sejak awal, kami memproyeksikan empat hingga lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk berjalan jauh lebih lama dari itu,” ujar Trump.
Meski belum menetapkan tenggat waktu pasti berakhirnya operasi militer, Trump mengklaim bahwa jalannya agresi sejauh ini melampaui ekspektasi awal. Ia menyebut sejumlah target utama telah berhasil dilumpuhkan dalam fase awal serangan gabungan AS-Israel.
Klaim Eliminasi Target Utama Iran
Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, termasuk di antara target yang tewas dalam gelombang serangan awal. Selain itu, beberapa pejabat tinggi Iran juga diklaim menjadi korban, termasuk pimpinan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
“Kami jauh lebih cepat dari jadwal dalam hal itu,” kata Trump, merujuk pada keberhasilan operasi tahap awal.
Jika klaim tersebut terkonfirmasi, dampaknya akan sangat besar terhadap struktur kekuasaan di Teheran. IRGC sendiri merupakan tulang punggung pertahanan dan proyeksi kekuatan militer Iran, termasuk dalam pengembangan rudal balistik dan operasi militer di luar negeri.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi independen terkait klaim tewasnya Ali Khamenei maupun pejabat tinggi lainnya. Pemerintah Iran juga belum memberikan pernyataan resmi yang mengakui klaim tersebut.
Alasan Serangan: Program Rudal Balistik Iran
Dalam pidato video terbarunya, Trump menegaskan bahwa operasi militer ini merupakan respons atas percepatan program rudal balistik Iran. Menurutnya, perkembangan teknologi militer Teheran telah mencapai tingkat yang mengancam keamanan Amerika Serikat dan sekutunya.
Trump bahkan menyebut Iran tengah melancarkan “perang melawan peradaban.” Ia menilai rezim Teheran telah menjadi ancaman eksistensial, tidak hanya bagi Israel, tetapi juga bagi kepentingan keamanan AS dan Eropa.
“Program rudal balistik Iran tumbuh dengan cepat dan dramatis. Rezim tersebut sudah memiliki rudal yang mampu menjangkau Eropa dan pangkalan-pangkalan kami di luar negeri, dan segera akan memiliki rudal yang mampu menjangkau Amerika kami yang indah,” tegasnya.
Pernyataan ini mempertegas bahwa isu utama yang dijadikan justifikasi adalah kemampuan rudal jarak menengah dan potensi pengembangan rudal jarak jauh Iran. Washington menilai ancaman tersebut tidak lagi bersifat regional, melainkan global.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Di sisi lain, eskalasi konflik AS-Israel versus Iran telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan di berbagai negara kawasan Timur Tengah. Trump mengakui bahwa kemungkinan akan ada lebih banyak korban dari pihak militer AS seiring berlanjutnya operasi.
Sebelumnya, Pentagon telah mengonfirmasi tewasnya tiga personel militer Amerika di Timur Tengah akibat serangan balasan Iran pada Minggu lalu. Insiden tersebut menandai korban pertama dari pihak AS sejak konflik meningkat menjadi konfrontasi terbuka.
Berdasarkan data terbaru yang beredar, total korban jiwa akibat eskalasi konflik ini mencapai ratusan orang di berbagai negara. Di Iran, dilaporkan 555 orang tewas akibat serangan udara dan rudal. Di Lebanon, tercatat 13 korban jiwa, sementara Israel melaporkan 10 orang meninggal dunia.
Negara-negara Teluk juga terdampak. Uni Emirat Arab mencatat tiga korban jiwa, Irak dua orang, sedangkan Oman, Bahrain, dan Kuwait masing-masing melaporkan satu korban meninggal.
Angka-angka tersebut diperkirakan masih dapat bertambah seiring berlanjutnya operasi militer dan aksi balasan di berbagai titik strategis kawasan.
Risiko Perang Berkepanjangan
Meski Trump memproyeksikan operasi militer hanya berlangsung empat hingga lima pekan, sejumlah analis memperingatkan risiko perang berkepanjangan. Iran memiliki jaringan sekutu dan milisi proksi di berbagai negara Timur Tengah, yang berpotensi membuka banyak front konflik sekaligus.
Selain itu, stabilitas pasar energi global juga menjadi perhatian utama. Kawasan Teluk merupakan jalur vital distribusi minyak dunia. Setiap eskalasi yang mengganggu jalur pelayaran strategis berpotensi memicu lonjakan harga energi dan mengguncang perekonomian global.
Secara politik, keputusan Trump untuk secara terbuka mengumumkan proyeksi durasi perang dinilai sebagai langkah untuk mengendalikan opini publik domestik. Dengan menyebut operasi berjalan lebih cepat dari jadwal, Gedung Putih berupaya membangun narasi keberhasilan awal.
Namun demikian, situasi di lapangan tetap dinamis dan sulit diprediksi. Konflik langsung antara AS, Israel, dan Iran berpotensi menjadi salah satu krisis geopolitik terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Kini, dunia menanti perkembangan berikutnya: apakah operasi militer gabungan AS-Israel benar-benar dapat diselesaikan dalam hitungan pekan, atau justru berkembang menjadi konflik jangka panjang yang mengubah peta kekuatan di Timur Tengah.
- Penulis: markom kabarjatengterkini

