Perjanjian Dagang AS–Korea Selatan: Investasi USD 350 Miliar, Pemangkasan Tarif, dan Kerja Sama Nuklir
- account_circle markom kabarjatengterkini
- calendar_month Jum, 14 Nov 2025
- visibility 77

Kabarjatengterkini.com- Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan resmi merilis rincian perjanjian dagang strategis yang disebut-sebut sebagai kesepakatan terbesar antara kedua negara dalam satu dekade terakhir.
Pengumuman yang disampaikan pada Jumat (14/11) ini merupakan kelanjutan dari pertemuan bilateral antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di Gedung Putih pada Oktober 2025. Dalam kesepakatan tersebut, Korea Selatan akan menanamkan investasi raksasa senilai USD 350 miliar di Amerika Serikat, termasuk USD 150 miliar untuk sektor perkapalan dan USD 200 miliar untuk industri lainnya.
Kesepakatan ini juga mencakup pemangkasan tarif impor AS atas produk Korea Selatan dari 25 persen menjadi 15 persen, sebuah langkah yang memberikan ruang bernapas bagi industri ekspor Negeri Ginseng, terutama sektor otomotif dan semikonduktor.
Pemangkasan Tarif dan Dampaknya bagi Perdagangan AS–Korsel
Salah satu poin paling signifikan dalam perjanjian dagang ini adalah keputusan AS untuk menurunkan tarif impor mobil dan suku cadang mobil Korea Selatan menjadi 15 persen, sejajar dengan tarif Jepang. Kebijakan baru tersebut berlaku surut sejak 1 November dan menjadi penentu stabilitas baru bagi perusahaan besar Korea seperti Hyundai, Kia, Samsung, dan SK Hynix yang sebelumnya berisiko terkena dampak negatif tarif tinggi.
Selain itu, sejumlah produk Korea Selatan lain juga terdampak kebijakan baru:
- Produk kayu dan farmasi: tarif maksimum 15 persen
- Komponen pesawat dan obat generik: bebas tarif
- Semikonduktor: diberikan perlakuan setara atau lebih menguntungkan dibanding Taiwan
Kedua negara juga berkomitmen mengurangi hambatan non-tarif pada sektor pertanian, layanan digital, regulasi platform online, dan akses pasar daging AS di Korea Selatan.
Kesepakatan energi turut masuk dalam kerangka perdagangan, dengan Korea Gas menandatangani kontrak pembelian 3,3 juta metrik ton LNG AS per tahun. Perjanjian ini menguatkan hubungan energi jangka panjang antara kedua negara.
Investasi Korea Selatan Senilai USD 350 Miliar
Total investasi Korea Selatan di Amerika Serikat dipecah menjadi dua alokasi besar:
- USD 200 miliar dalam bentuk tunai
- USD 150 miliar untuk kerja sama perkapalan dan investasi sektor swasta
Dana tunai sebesar USD 200 miliar akan diberikan melalui skema cicilan tidak lebih dari USD 20 miliar per tahun. Tujuannya adalah menjaga stabilitas nilai tukar won agar tidak mengalami gejolak akibat arus dana keluar yang terlalu besar. Jika pasar menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan, Korea Selatan diperbolehkan mengajukan penyesuaian besaran atau waktu pembayaran, dan AS akan meninjaunya dengan itikad baik.
Sementara itu, investasi perkapalan akan melibatkan dukungan lembaga kebijakan Korea Selatan, pinjaman, jaminan, serta partisipasi sektor swasta. Strategi ini bertujuan memperkuat industri maritim Amerika dan membuka peluang bisnis baru bagi galangan kapal Korea.
Kerja Sama Nuklir: Kapal Selam dan Teknologi Energi
Salah satu aspek paling menarik dari kesepakatan ini adalah meningkatnya kerja sama kedua negara dalam teknologi nuklir. Lembar fakta Gedung Putih menyebutkan bahwa AS memberikan persetujuan bagi Korea Selatan untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir, termasuk dukungan pencarian metode penyediaan bahan bakar.
Pemerintah Korea Selatan menegaskan bahwa pembangunan kapal selam tersebut direncanakan dilakukan langsung di Korea Selatan, alih-alih di galangan kapal Philadelphia seperti yang sebelumnya disebut Presiden Trump. Selain itu, AS dan Korea Selatan juga menyepakati kerja sama jangka panjang dalam pengayaan uranium sipil dan pemrosesan ulang bahan bakar nuklir bekas untuk tujuan damai.
Para analis menilai bahwa kepemilikan kapal selam nuklir memang bukan game changer, namun tetap menjadi peningkatan signifikan dalam kemampuan pertahanan laut Korea Selatan di tengah ketegangan kawasan akibat ancaman Korea Utara.
Motif Diplomatik di Balik Kesepakatan Besar
Presiden Lee Jae Myung, yang baru menjabat lima bulan, memandang kesepakatan ini sebagai kemenangan diplomatik penting. Ia datang ke Washington dengan tujuan memulihkan perekonomian domestik dan mengurangi tekanan tarif yang sebelumnya diterapkan Trump terhadap berbagai negara. Dengan berhasil mengamankan investasi besar serta pengurangan tarif, Lee dinilai mampu mengubah ancaman ekonomi menjadi peluang strategis.
Dalam pernyataannya, Lee mengatakan bahwa keberhasilan negosiasi ini tercapai berkat keputusan rasional Presiden Trump serta kemauan kedua negara memperkuat kerja sama komersial, keamanan, dan industri.
Babak Baru Hubungan Ekonomi AS–Korea Selatan
Perjanjian dagang AS–Korea Selatan pada 2025 ini menjadi salah satu kesepakatan bilateral terbesar antara kedua negara. Dengan investasi mencapai USD 350 miliar, tarif yang lebih rendah, dan kerja sama strategis dalam teknologi nuklir serta perkapalan, kedua negara memasuki fase baru dalam hubungan ekonomi dan keamanan.
Kesepakatan ini tidak hanya memperkuat posisi Korea Selatan secara global, tetapi juga membantu Amerika Serikat membangun kembali industrinya melalui kolaborasi yang saling menguntungkan.
- Penulis: markom kabarjatengterkini

