Ketegangan Timur Tengah: Israel Tolak Tunduk pada Kesepakatan Washington-Teheran
- account_circle markom kabarjatengterkini
- calendar_month Rab, 17 Jun 2026
- visibility 34

Kabarjatengterkini.com— Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan sikap kerasnya untuk tetap melanjutkan operasi militer di wilayah Lebanon.
Langkah berani ini diambil meskipun sekutu utama mereka, Amerika Serikat (AS), dilaporkan telah mencapai kesepakatan damai historis dengan Iran untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Netanyahu menyatakan dengan gamblang bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tidak akan pernah menarik diri dari Lebanon selatan.
Operasi militer akan terus berjalan hingga seluruh ancaman yang mengintai keamanan warga Israel benar-benar bersih. Menurutnya, perjuangan Tel Aviv untuk mengamankan kedaulatan negara masih sangat jauh dari kata selesai.
“Israel harus terus berjaga-jaga, terus menjadi kuat, dan terus bertekad untuk membela diri sebisa mungkin,” ujar Netanyahu, sebagaimana dikutip dari The Jerusalem Post, Selasa (16/6/2026).
Tetap Bertahan di Zona Penyangga Lebanon
Pernyataan tegas dari pemimpin sayap kanan Israel ini merujuk pada konflik multi-front yang terus membara sejak Israel melancarkan agresi militer di Jalur Gaza, Palestina. Eskalasi tersebut kini telah meluas, memicu pertempuran sengit antara militer Israel dan kelompok milisi Hizbullah di Lebanon, serta operasi militer paralel di Suriah.
Dalam pidatonya, Netanyahu mengklaim bahwa militer Israel sejauh ini telah berhasil memusnahkan hampir seluruh elemen teror yang terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu. Kendati demikian, ia percaya masih ada satu kekuatan besar tersisa di perbatasan utara yang harus segera ditumpas demi menjamin keamanan jangka panjang.
“Dia (elemen teror tersisa) juga akan dilenyapkan. Israel tidak akan membiarkan organisasi teroris berkemah di perbatasan kita,” tegas Netanyahu. “Kami akan tetap berada di zona penyangga keamanan Lebanon selama diperlukan.”
Kabinet Israel Kompak Tolak Perjanjian Damai AS-Iran
Sikap menolak tunduk ini menjadi respons perdana Netanyahu setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan historis antara Washington dan Teheran. Trump mengungkapkan bahwa poin perjanjian tersebut mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran yang telah berlangsung lama.
Di tempat terpisah, PM Pakistan Shehbaz Sharif juga membeberkan bahwa kesepakatan damai AS-Iran ini memuat komitmen gencatan senjata total di semua front pertempuran, termasuk penghentian bom atom dan serangan udara di Lebanon.
Namun, pengumuman tersebut justru direspons dingin oleh Tel Aviv. Sejumlah menteri di kabinet Netanyahu secara terbuka menolak klausul perjanjian tersebut pada Senin (15/6/2026). Mereka menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kewajiban moral maupun hukum untuk mematuhi kesepakatan damai itu, mengingat Tel Aviv tidak pernah dilibatkan dalam meja perundingan sejak awal.
Klaim Kerusakan Ekonomi Iran Mencapai USD 1 Triliun
Menyinggung soal hubungan Washington dan Teheran, Netanyahu menegaskan bahwa target utama Israel tetap sama: memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, dengan atau tanpa adanya kesepakatan internasional.
Netanyahu juga membela keputusan kontroversialnya yang sempat memerintahkan serangan udara langsung ke jantung pertahanan Iran beberapa waktu lalu. Ia mengklaim serangan agresif tersebut sukses melumpuhkan ancaman eksistensial yang membayangi masa depan Israel.
-
Operasi Militer Skala Besar: “Bersama dengan teman-teman Amerika, kita memulai misi serangan terbesar dalam sejarah Israel,” klaim Netanyahu.
-
Target yang Dilumpuhkan: Menghancurkan pabrik rudal, membunuh para pemimpin faksi, serta menggagalkan proyek ilmuwan nuklir Iran.
-
Dampak Kerugian: Mengakibatkan kelumpuhan ekonomi masif pada rezim Teheran.
“Kita telah menyebabkan kerusakan yang sangat besar. Kita memperkirakan kerugiannya mencapai ratusan miliar dolar, dan beberapa memperkirakan bahkan mendekati satu triliun dolar. Ini kerusakan yang sangat besar bagi perekonomian Iran yang butuh waktu puluhan tahun untuk diperbaiki,” ucapnya menambahkan.
Hubungan Pasang-Surut Netanyahu dan Donald Trump
Meskipun memiliki hubungan yang dinamis dengan Donald Trump, Netanyahu mengakui bahwa presiden AS tersebut tidak selalu sepakat dengan setiap keputusan politik maupun strategi militer yang diambil Israel. Namun, bagi Netanyahu, kepentingan keamanan nasional Israel adalah harga mati yang tidak bisa dinegosiasikan dengan pihak luar, termasuk sekutu terdekatnya.
Di sisi lain, AS dan Iran dikabarkan telah mematangkan Nota Kesepahaman (MoU) damai pada Minggu (14/6/2026) setelah melalui negosiasi yang sangat alot. Dokumen perjanjian damai tersebut rencananya akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6/2026) mendatang.
Hingga saat ini, poin-poin detail dari isi kesepakatan tersebut belum dirilis sepenuhnya. Wakil Presiden AS, JD Vance, berjanji bahwa rincian utuh dari MoU tersebut akan segera dibuka transparan kepada publik sebelum prosesi penandatanganan resmi dilakukan di Swiss.
- Penulis: markom kabarjatengterkini

