KGPAA Mangkunegara X Beri Gelar Kanjeng Pangeran kepada Bambang Pacul
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Sel, 27 Jan 2026
- visibility 19

Foto: KGPAA Mangkunegara X (Sumber: ig)
Kabarjetengterkini.com – KGPAA Mangkunegara X atau Gusti Pangeran Harga (GPH) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo mengikuti prosesi Tingalan Jumenengan ke-4. Prosesi ini digelar untuk memperingati kenaikan takhta raja di Kadipaten Mangkunegaran.
Dalam acara ini pula, politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul mendapatkan gelar berupa Kanjeng Pangeran (KP). Diketahui, gelar KP merupakan salah satu gelar terhormat dalam budaya Jawa.
“Hari ini saya juga berbahagia, karena sampeyan ndalem KGPAA Mangkunegara X memberikan hadiah berupa anon-anon atau gelar. Gelar Kanjeng Pangaren, saya kira itu gelar yang sangat terhormat dalam kultur Jawa,” kata Bambang, di Puro Mangkunegaran, Selasa (27/1/2026), dikutip Detik.
Meski demikian, pihaknya masih enggan menjelaskan bagaimana ia bisa meraih gelar tersebut. Ia mempersilahkan untuk menanyakan seputar hal tersebut kepada yang bersangkutan langsung atau KGPAA Mangkunegara X yang memberikan gelar tersebut.
“Nah itu bisa ditanyakan ke Kanjeng Gusti,” ujarnya.
Sebelumnya, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X mengikuti rangkaian Tingalan Jumenengan ke-4 pada Selasa (27/1/2026). Ia turut membacakan pidatonya sembari melakukan refleksi bahwa selama empat tahun menjabat di Kadipaten Mangkunegaran.
“Terima kasih atas harapan dan dukungan yang telah menyertai perjalanan Mangkunegaran selama empat tahun ini. Perjalanan yang penuh tantangan dan juga pencapaian yang mempertemukan kita hari ini dalam rasa syukur dan kebersamaan,” ujar Mangkunegara X.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan mengenai pentingnya tata krama dan saling hormat sebagai sikap untuk memanusiakan manusia lainnya. Ia juga berpesan untuk selalu memiliki tujuan selama hidup.
“Dari kesadaran yang hidup, terpancar tata krama. Sikap hormat, andap asor, dan keramahan bukan sebagai kebiasaan lahiriah, melainkan pancaran dari suatu hati yang sadar. Tata krama adalah cara memanusiakan manusia dan menjaga ruang hidup agar tetap rukun, tenteram, dan saling menghargai,” terangnya.
“Dalam menjalani hidup, seorang manusia harus memiliki suatu tujuan tetapi tidak boleh kehilangan arah dan cara. Seperti falsafah penunggang kuda, arah perlu dipahami, melangkah dengan konsisten, serta kerja keras yang dijalani dengan ketekunan,” kata dia lagi. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

