Ribuan Mahasiswa Kepung Bundaran HI Hari Ini, Suarakan Aksi ‘Menuju Indonesia Bangkrut’
- account_circle markom kabarjatengterkini
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 11

Kabarjatengterkini.com– Gelombang protes mahasiswa kembali menggeliat di ibu kota. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah elemen mahasiswa dari berbagai universitas di wilayah Jabodetabek dipastikan bakal menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Jumat (12/6/2026) ini.
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, menyebutkan bahwa gerakan kali ini akan membawa massa dalam jumlah masif untuk menyuarakan keresahan publik secara langsung di jantung kota Jakarta. Pihaknya memproyeksikan pergerakan massa akan mencapai ribuan mahasiswa yang bergerak dari berbagai titik kampus di sub-urban menuju pusat ibu kota.
“Massa yang turun diperkirakan mencapai 1.000 mahasiswa ke atas,” ujar Yatalathof saat dikonfirmasi mengenai estimasi jumlah peserta aksi di Jakarta.
Aksi unjuk rasa yang mengusung tajuk utama ‘Menuju Indonesia Bangkrut’ ini dirancang sebagai bentuk protes terbuka terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Mengingat signifikansi lokasi aksi di Bundaran HI, pihak kepolisian dan otoritas lalu lintas setempat mengimbau pengguna jalan untuk mengantisipasi potensi kepadatan arus kendaraan di sepanjang jalan protokol Jenderal Sudirman hingga MH Thamrin sejak siang hari.
Empat Tuntutan Utama Aksi Mahasiswa Jabodetabek
Dalam aksi unjuk rasa kali ini, para mahasiswa membawa sejumlah poin tuntutan krusial yang dinilai menjadi akar persoalan masyarakat saat ini. Berdasarkan pernyataan resmi aliansi, tuntutan tersebut berfokus pada perbaikan stabilitas ekonomi rakyat serta reformasi kebijakan tata kelola negara.
Ada empat tuntutan utama yang akan digaungkan di hadapan publik:
-
Setop Pemborosan APBN: Mahasiswa mendesak pemerintah untuk melakukan efisiensi anggaran dan menghentikan alokasi dana proyek-proyek non-prioritas yang dinilai membebani keuangan negara.
-
Turunkan Harga Kebutuhan Pokok dan BBM: Melonjaknya harga komoditas pangan di pasar serta tingginya harga bahan bakar minyak dinilai telah menggerus daya beli masyarakat kecil secara drastis.
-
Hentikan Militerisme di Ranah Sipil: Aliansi mengecam segala bentuk pendekatan represif atau keterlibatan aparat keamanan yang berlebihan dalam ruang-ruang publik sipil.
-
Mendesak Sikap Tegas Presiden: Mahasiswa meminta Presiden Prabowo untuk berhenti mengelak, mengakui adanya kekeliruan dalam manajemen kebijakan pemerintah, dan segera mengambil langkah konkret untuk membenahi situasi ekonomi nasional.
Konsolidasi Akbar Lintas Kampus di Depok
Aksi turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat terkait kondisi ekonomi yang dinilai semakin membebankan rakyat ini bukanlah gerakan spontan. Langkah ini merupakan hasil nyata dari konsolidasi terakhir yang digelar secara tertutup di Kampus UI, Depok, pada Rabu (10/6/2026) malam.
Pertemuan besar tersebut dihadiri oleh seluruh elemen BEM fakultas se-UI serta perwakilan dari berbagai universitas ternama di Jabodetabek. Di antaranya adalah BEM Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gunadarma, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UPN Veteran Jakarta, dan Universitas Pancasila.
Tidak hanya dari kalangan internal mahasiswa, gerakan ini juga diperkuat oleh elemen organisasi kemasyarakatan seperti Serikat Perempuan Indonesia (Seruni) serta Front Mahasiswa Nasional (FMN). Penggabungan berbagai elemen ini menunjukkan bahwa keresahan yang dibawa sudah bersifat multidimensional.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (FMN), Sympati Dimas Rafi’i, menjelaskan bahwa seluruh massa aksi dijadwalkan berkumpul di titik temu sebelum waktu ibadah salat Jumat. Berdasarkan koordinasi terakhir, para peserta aksi sepakat untuk melaksanakan salat Jumat bersama terlebih dahulu di sekitar kawasan Bundaran HI sebelum memulai orasi dan mobilisasi massa secara penuh.
Kritik Tajam terhadap Kondisi Ekonomi Nasional
Dalam pernyataan sikap tertulisnya, aliansi mahasiswa secara tajam menyoroti kondisi perekonomian Indonesia yang dinilai terus menunjukkan tren memburuk. Mereka mengkritik keras serangkaian kebijakan pemerintah yang dianggap mengabaikan kepentingan masyarakat luas dan lebih berpihak pada stabilitas elite.
Menurut Dimas, Indonesia saat ini tengah menghadapi persoalan ekonomi yang sangat serius, mulai dari fluktuasi nilai tukar hingga inflasi yang menekan sektor domestik. Di sisi lain, respon dari pemerintah dinilai belum mampu memberikan jawaban kongkrit atau solusi jangka panjang atas berbagai keluhan yang dirasakan langsung oleh masyarakat di akar rumput.
Gerakan ini ditegaskan sebagai bentuk alarm pengingat bagi jalannya pemerintahan. Mahasiswa memandang situasi bangsa saat ini sudah berada di lampu kuning dan membutuhkan perhatian serta tindakan nyata yang cepat dari jajaran kabinet, bukan sekadar retorika politik.
Sebagai penutup pernyataannya, Dimas mengingatkan kembali tentang paradoks kekayaan alam Indonesia yang belum berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyatnya. Ia menegaskan bahwa mahasiswa akan terus konsisten menjadi penyambung lidah bagi ketimpangan sosial yang masih terjadi di lapangan.
“Indonesia adalah negara yang kaya, namun rakyatnya belum sejahtera. Indonesia negara besar, tapi masih banyak rakyat yang belum terbebas dari rasa lapar,” kata Dimas menegaskan esensi dari pergerakan hari ini.
- Penulis: markom kabarjatengterkini

