Pemkot Semarang Apresiasi Perayaan Kedatangan Kimsin Yang Suci (YS) Poo Seng Tay Tee
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Sel, 16 Jun 2026
- visibility 13

Foto: Iswar Aminuddin di Perayaan Kedatangan Kimsin Yang Suci (YS) Poo Seng Tay Tee ke-166 (Sumber: Pemkot Semarang)
Semarang, Kabarjatengterkini.com – Budaya menjadi salah satu penguat toleransi antar warga di Kota Semarang. Keragaman suku, agama, budaya, dan tradisi mewujudkan harmonisasi yang bertahan selama ratusan tahun.
Salah satu tradisi yang patut diapresiasi adalah Perayaan Kedatangan Kimsin Yang Suci (YS) Poo Seng Tay Tee ke-166. Acara tersebut digelar di Klenteng Besar Tay Kak Sie pada Senin (15/6/2026), serta turut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin.
Menurut Iswar, melalui gelaran ini, masyarakat tidak hanya diajak untuk merawat nilai-nilai spiritual dan tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat semangat persaudaraan di tengah keberagaman dan latar belakang yang berbeda.
“Kesenian yang ditampilkan malam ini menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang,” kata Iswar.
“Seni dan budaya memiliki kekuatan membangun jembatan persaudaraan, mempererat silaturahmi, solidaritas sosial, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap kota yang kita cintai,” lanjut dia.
Iswar mengatakan, seremoni tersebut telah berlangsung lebih dari satu setengah abad. Ini menunjukkan bahwa Perayaan Kedatangan Kimsin Yang Suci (YS) Poo Seng Tay Tee telah menjadi bagian perjalanan sejarah dan identitas Kota Semarang.
Pelestarian budaya dianggap menjadi suatu investasi bagi masa depan suatu daerah. Seni dan tradisi dianggap sebagai nilai tambah dalam rangka mewujudkan pembangunan secara berkelanjutan.
“Semakin banyak ruang yang tersedia bagi ekspresi budaya, semakin kuat pula daya tarik Kota Semarang sebagai kota budaya, kota wisata, dan kota yang ramah bagi semua,” imbuhnya.
Rangkaian kegiatan meliputi doa bersama, prosesi sakral di klenteng, pentas kesenian, hingga Kirab Budaya Akbar yang menjadi puncak perayaan. Selain itu, kegiatan tersebut juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah dengan melibatkan UMKM dan sektor pariwisata.
“Mari kita jadikan momentum ini sebagai penguat semangat gotong royong, toleransi, dan kolaborasi. Kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menjaga harmoni, merawat warisan budaya, serta membangun kehidupan yang inklusif dan saling menghormati,” tegasnya. (adv)
- Penulis: Anisya Gusti

