Kasus Bullying di Pati Jadi Sorotan, Wagub Jateng: Ini PR Bersama
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Sab, 8 Agu 2026
- visibility 11

Foto: Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (Sumber: Pemprov Jateng)
Kabarjatengterkini.com – Kasus dugaan perundungan (bullying) di Kabupaten Pati menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng). Permasalahan ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang perlu diatasi oleh semua pihak.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyebut bahwa pencegahan perundungan tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah maupun pesantren saja, namun juga melibatkan keluarga dan masyarakat.
“Bullying ini menjadi PR kita bersama. Bukan hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga sampai ke pesantren. Karena itu, kita harus betul-betul melakukan langkah pencegahan dan edukasi,” kata Taj Yasin.
Sampai saat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mendorong berbagai upaya preventif, salah satunya melalui Forum Anak Pesantren. Selain itu, penguatan karakter sejak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
“Kemarin saat Rapat Koordinasi PAUD, kami menyampaikan bahwa salah satu yang harus dibekali kepada para guru adalah bagaimana menciptakan suasana yang nyaman bagi anak-anak. Jangan sampai mereka diberikan beban yang berlebihan,” ujarnya.
Lebih lanjut, terkait kasus bullying harus dilihat akar persoalannya untuk mengetahui penyebab perundungan, sehingga dapat diidentifikasi dan ditangani secara tepat. Perlu dilakukan komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua guna memantau perkembangan perilaku anak.
“Permasalahan itu harus kita analisis. Jangan-jangan sumbernya ada di lingkungan sekitar, kemudian terbawa ke sekolah. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dilakukan di lingkungan sekolah,” katanya.
“Kita harapkan sekolah-sekolah memiliki komunikasi yang baik dengan orang tua. Bagaimana perilaku anak di sekolah dan bagaimana perilaku mereka di rumah harus saling diketahui. Dengan begitu, potensi bullying bisa ditekan sejak dini,” ujarnya.
Menurutnya, meningkatnya laporan kasus perundungan menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap dugaan kekerasan terhadap anak. Dengan penanganan tepat, diharapkan anak bisa belajar di lingkungan yang aman dan nyaman.
“Dengan adanya aduan-aduan ini saya justru senang. Artinya, semakin banyak yang berani melapor, semakin banyak pula kasus yang bisa kita tangani. Itu menunjukkan kepedulian masyarakat semakin baik,” katanya. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

