Sebanyak 37 Kasus Kebakaran Hutan dan Lahan di Jateng Terjadi Sebulan Terakhir
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 10

Foto: ilustrasi (Sumber: istock)
Kabarjatengterkini.com – Sebanyak 37 kasus kebakaran hutan dan lahan terjadi selama periode Juni-Juli 2026 di Jawa Tengah. Peningkatan potensi kebakaran hutan tersebut disebut-sebut karena fenomena El Nino.
Menurut catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng), sebaran kebakaran hutan dan lahan ada di 16 kabupaten dan kota. Sementara, insiden paling banyak terjadi di Blora dan Sukoharjo.
“Kebakaran hutan lahan 37 kali. Tapi kalau ditambah dengan kebakaran gedung dan rumah itu bisa sampai 205 kali. 5 Juni sampai 12 Juli,” kata Kepala BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan, Selasa (14/7/2026), dikutip Detik.
“Karhutla itu hanya di titik-titik tertentu, di 16 kabupaten kota. Paling banyak itu ada di Blora sama Sukoharjo,” terangnya.
El Nino Godzilla juga diduga turut menyebabkan kebakaran di lahan ilalang. Suhu panas membuat ilalang-ilalang kering memercikan api saat saling bergesekan, sehingga memicu kebakaran. Menurutnya, kebakaran lahan masih berpotensi terjadi sepanjang El Nino berlangsung.
“Kalau kaitannya dengan ladang ilalang, Iya. ladang ilalang itu satu hamparan rumput tanah begitu yang ada pohon liarnya. Karena kering, dia ada kecenderungan karena panas tergesek-gesek gitu. Ini kan baru dugaan masih dalam Investigasi,” beber Bergas.
“Prediksi ini setiap seminggu hasil update kami terjadi peningkatan, terjadi peristiwa kebakaran lahan ya. Semoga saja hutannya tidak,” imbuh dia.
Ada pula lahan tebu yang sengaja dibakar saat pascapanen. Langkah tersebut dilakukan guna mengurangi biaya operasional karena biayanya dinilai lebih murah jika dibandingkan pembersihan manual menggunakan tenaga manusia.
“kalau lahan itu lebih cenderung dikarenakan sengaja dibakar, maksudnya yang tebu, ya. Ini rata-rata lahan tebu di mana istilahnya operasional pembersihannya itu lebih murah dibandingkan secara manual dengan manusia,” ungkapnya.
Lebih lanjut, BPBD Jateng terus menggencarkan imbauan kepada pemerintah daerah setempat untuk mensosialisasikan agar warga tidak membakar lahan tebu yang telah dipanen. Pasalnya, kemarau panjang dan suhu tinggi meningkatkan risiko kebakaran.
“Tentunya imbauan dan imbauan, edukasi ke masyarakat tetap harus dilaksanakan, utamanya dampak turunannya. Dampak yang diakibatkan dengan adanya kemarau panjang dengan intensitas suhu yang cukup tinggi ini tentunya masih berkaitan dengan dampak kebakaran,” ucapnya. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

