Heboh Parkir Bus Rp100 Ribu di Masjid Raya Sheikh Zayed, Pemkot Bakal Tindak Tegas
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 8

Foto: ilustrasi (Sumber: istock)
Kabarjatengterkini.com – Heboh aduan warga tentang tarif parkir bus di Masjid Raya Sheikh Zayed, Surakarta, sebesar Rp100 ribu di bekas lahan Denbekang. Besaran tarif itu disebut sudah termasuk pelayanan atau servis untuk sopir bus.
Terkait laporan warga itu, Wali Kota Solo, Respati Ardi, melakukan inspeksi mendadak. Pihaknya turut mengumpulkan para petugas parkir untuk mengetahui kondisi di lapangan secara langsung, sekaligus mengedukasi larangan pungutan liar (pungli).
“Saya hari ini sudah sampaikan untuk menyanksi tegas jika ada pungli biaya parkir yang di luar ketentuan. Kita hari ini sampaikan secara langsung bahwa ini merugikan wisatawan, tentunya merugikan ekonomi masyarakat sekitar juga,” katanya, Jumat (14/8/2026), dikutip Detik.
Ia menegaskan akan menindak tegas juru parkir yang melakukan pungli, hingga mencabut hak pengelolaan parkir. Pemkot Surakarta juga tak segan membawa kasus ini ke ranah hukum untuk memberikan efek jera.
“Cabut hak pengelolaan ya, kita cabut hak pengelolaan parkirnya di sana sudah, intinya begitu. Sudah, tadi sudah disampaikan mau dibawa ke Polsek, Tipiring, dan lain-lain,” terang Respati Adi.
“Ketentuannya nanti dari bapak-bapak penegak hukum yang akan menjelaskan. Tapi yang jelas jika masih terjadi lagi, langsung kita cabut izinnya,” tegasnya lagi.
Sebagai tindak lanjut, pihaknya akan melakukan penataan pada kawasan parkir Masjid Zayed, terutama soal tarif parkirnya.
“Di parkir wilayah timur, barat, utara, selatan Masjid Zayed juga akan kita buat kawasan wisata khusus, ada tarif khusus yang terang, jadi warga yang ingin berkunjung itu mengetahui tarif yang berlaku,” terangnya.
Sementara itu, salah satu juru parkir di barat Masjid Zayed, Gatot, mengakui bahwa memang ada tarif parkir sebesar Rp 100 ribu. Namun, tarif tersebut sudah termasuk servis untuk sopir bus hingga biaya operasional lainnya.
“Sebetulnya bukan full buat kita, Mas. Jadi nanti itu ada buat sopir. Kalau masuk sini, sopir dapat minum, itu termasuk servis. Terus nanti ada yang menjemput bus sendiri, itu juga dapat fee,” ujarnya.
“Belum dipotong kebersihan, terus nanti belum dipakai buat listrik. Jadi kita itu cuma dapat separuhnya saja, Rp 50.000. Nah, itu pun kalau cuma ada 10 bus, dapat Rp 500.000 itu dibagi 23 orang yang kerja di sini,” ujar dia. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

