Heboh Pihak SPBU Kadilangu Sukoharjo Tolak Ambulans Isi BBM, Ini Duduk Perkaranya
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 10

Foto: ilustrasi (Sumber: istock)
Kabarjatengterkini.com – Heboh pihak Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Desa Kadilangu, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, menolak ambulans saat hendak mengisi BBM jenis Pertalite.
Insiden ini membuat ambulans harus menunggu selama dua jam dan gagal menjemput pasien dari Desa Trosemi, Kecamatan Gatak, pada Senin (31/8/2026). Hal itu berbuntut SPBU Desa Kadilangu sempat diprotes rombongan.
Ketua relawan Sedekah Bareng (Saber), Wirawan, menjelaskan duduk perkara kejadian itu. Awalnya, ambulans Saber 01 melaksanakan kegiatan di Rumah Sakit Kustati, kemudian mendapatkan permintaan menjemput pasien ke RSUD dr. Moewardi, Solo.
Namun, saat di jalan, bensin ambulans hampir habis, sehingga mobil masuk ke SPBU Kadilangu untuk isi Pertalite. Selama ini, ia mengaku tidak ada masalah pengisian BBM subsidi tersebut, tetapi barcode dan kondisi kendaraan baru menjadi sumber persoalan.
“Memang barcode itu dibuat pertama tahun 2022, dengan foto ambulansku jaman itu dengan branding orange garis-garis. Setelah beberapa tahun, sudah berubah branding, dan sekarang dipermasalahkan karena tidak sesuai dengan foto, dan diminta update foto,” kata Wirawan, Selasa (1/9/2026), dikutip Detik.
Menurutnya, relawan keberatan jika harus melakukan update foto kendaraan karena harus segera menjemput pasien. Akhirnya, petugas SPBU harus melakukan scan barcode ambulans lagi dan diminta menunggu sekitar 2 jam.
“Kalau update foto, menu di My Pertamina itu kan tidak ada, adanya hapus data dan membuat baru. Kalau daftar baru butuh waktu tenggang 1-3 Minggu. Dan dia (petugas SPBU) sudah terlanjur melakukan scan,” ucapnya.
Hal itu kemudian dilaporkan ke relawan lainnya, sehingga pasien kemudian dicarikan ambulans lain untuk menjemput pasien. Hal itu membuat rombongan lainnya menggeruduk SPBU untuk meminta klarifikasi.
“Lalu sopirku laporan ke saya, saya buat status dan saya coba menghubungi pengawasnya (SPBU Kadilangu). Tapi teman-teman (ambulan) terlanjur mendatangi SPBU,” lanjut dia.
Menanggapi protes tersebut, pihak SPBU di Desa Kadilangu menyampaikan permohonan maaf, serta menyelesaikan permasalahan tersebut dengan sopir ambulans secara damai. Permintaan maaf itu juga sudah diunggah di media sosialnya.
“Saya mohon maaf untuk pelayanan, mungkin operator kurang (paham). Untuk kedepan insyaallah, hal-hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, karena ambulan kan untuk kebutuhan kita bersama, untuk kemanusiaan juga. Sudah diatur juga jika ambulan, mobil sampah, mobil pemadam kebakaran kalau urgent sekali tetap kita bantu,” terang Pengawas SPBU Kadilangu, Udin, Selasa (1/9/2026).
“Teman-teman dari ambulans mau konfirmasi, kenapa tidak dilayani. Saya sudah laporan ke Pertamina, kemarin sudah clear juga, saya sudah bertemu perwakilan dari ambulans,” kata Udin.
Dalam pertemuan antara pihak SPBU dan relawan juga disepakati sejumlah poin, terutama terkait pelayanan terhadap mobil ambulans. Misalnya, jika ada ambulans yang tidak memiliki barcode, akan dibantu dengan mengisi yang nonsubsidi.
“Dengan konsekuensi harga yang sama, kekurangan kita ajukan ke Pertamina,” jelas dia. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

