Pemprov Pastikan Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Belum Sampai ke Jateng
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 7

Foto: ilustrasi (Sumber: istock)
Kabarjatengterkini.com – Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada sejumlah provinsi di sekitar, termasuk di sebagian Pulau Jawa. Bahkan, menurut informasi, abu vulkanik meluas hingga dirasakan warga di Jawa Tengah (Jateng).
Pemprov Jateng memastikan belum ada abu vulkanik di wilayahnya. Meski demikian, pihaknya berkoordinasi dengan BPBD di 35 kabupaten/kota untuk melakukan penilaian di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Jawa Barat.
“Ada informasi simpang siur terkait dampak langsung (abu letusan Anak Krakatau) kepada masyarakat (Jawa Tengah). Untuk menjelaskan isu-isu itu, harus didukung dengan data,” kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Bergas Catursasi Penanggungan, Senin (7/9/2029), dikutip Detik.
Menurut penilaian di Cilacap, Kebumen, Purworejo, Brebes, Tegal, hingga Banyumas, BPBD Jateng menyimpulkan belum ada residu abu vulkanik di wilayahnya. Sementara, penyebaran debu sementara ini masih menjadi dampak musim kemarau.
“Setelah kita cek di beberapa wilayah, hal yang mengganggu aktivitas kehidupan penghidupan masyarakat belum terjadi,” ujar Bergas.
“Kalau kita bicara di musim ini, debu itu pasti luar biasa. Maka penggunaan masker itu menjadi penting. Kemudian tidak banyak keluar rumah. Kalau aktivitasnya banyak di luar rumah, banyak minum air putih,” lanjut dia.
Sementara itu, mengacu pada data yang dirilis oleh Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin dan analisis citra satelit BMKG Himawari, angin permukaan berada pada ketinggian 1.500 meter bergerak dari timur ke barat.
“Jadi, kenapa kemarin agak heboh, barangkali memang di lapisan atas itu trajektori debu vulkanik itu diperkirakan sampai ke Jateng, tapi itu di lapisan atas. Sementara lapisan di bawahnya, anginnya ke arah dari timur ke barat,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang Yoga Sambodo.
Pihaknya juga telah melakukan analisis dengan melakukan ‘paper test’ pada 6 dan 7 September 2026 di lingkungan Bandara Ahmad Yani Semarang. Hasilnya, debu vulkanik dinyatakan negatif. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

