Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sains » Tontonan ‘Tung Tung Sahur’ hingga ‘Tralarelo’: Seru atau Bahaya Bikin Otak Rusak?

Tontonan ‘Tung Tung Sahur’ hingga ‘Tralarelo’: Seru atau Bahaya Bikin Otak Rusak?

  • account_circle markom kabarjatengterkini
  • calendar_month Kam, 24 Jul 2025
  • visibility 248

Kabarjatengterkini.com– Di era digital saat ini, anak-anak zaman sekarang punya tontonan yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Video-video seperti “Tung Tung Sahur”, “Balerina Cappuccino”, “Tralarelo Tralala”, dan berbagai klip absurd dengan suara aneh dan visual kacau, menjadi sajian favorit di layar ponsel mereka. Konten-konten ini diputar berulang-ulang, sampai-sampai orang tua pun mulai hafal nama-nama konten absurd tersebut. Awalnya terlihat lucu dan bikin penasaran, namun benarkah tontonan semacam ini aman untuk perkembangan anak?

Apa Itu Konten Anomali?

Fenomena yang tengah marak ini dikenal sebagai konten anomali, sebuah jenis video yang tidak memiliki alur cerita jelas, durasinya sangat singkat, dan disusun dari potongan-potongan video acak dengan efek suara berlebihan. Konten ini biasanya menampilkan karakter-karakter absurd, hasil gabungan antara hewan, manusia, atau benda-benda lain yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Konten anomali sangat populer di platform seperti TikTok dan YouTube Shorts, di mana pengguna bisa mengaksesnya kapan saja dan dengan mudah. Meski terdengar seperti hiburan ringan, konten singkat dan repetitif ini sebenarnya berpotensi menimbulkan dampak negatif pada perkembangan psikologis anak.

Dampak Konten Anomali: Risiko Brain Rot pada Anak

Peneliti dan ahli kesehatan mental kini mulai memperingatkan bahaya dari konsumsi konten anomali secara berlebihan. Istilah brain rot digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika otak mengalami penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital yang berulang dan kurang berkualitas.

Henry David Thoreau pertama kali memperkenalkan istilah brain rot pada tahun 1854, meskipun saat itu belum terkait dengan konten digital. Baru pada tahun 2024, brain rot menjadi Oxford Word of the Year, menandai kekhawatiran atas kerusakan otak generasi muda akibat konsumsi konten digital murah dan tidak bermakna, seperti video absurd dan scrolling tanpa tujuan di media sosial.

Bagaimana Konten Anomali Menyebabkan Brain Rot?

Sri Idaiani, psikiater dan peneliti dari Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa paparan terus-menerus terhadap konten anomali yang bersifat singkat, repetitif, dan sangat adaptif bisa memengaruhi kemampuan pengambilan keputusan pengguna. “Konten ini juga membuat pengguna menjadi mudah lupa karena terbiasa dengan informasi yang dangkal dan cepat,” ujar Sri dalam akun Instagram resmi @brin_Indonesia.

Sri menambahkan, meskipun konten panjang yang minim nilai juga berpotensi mengganggu jika digunakan berlebihan, kenyataannya justru konten pendek minim nilai yang lebih banyak beredar dan digemari. “Fenomena ini mencerminkan pergeseran preferensi masyarakat yang lebih memilih kecepatan dan hiburan ketimbang kedalaman dan substansi,” jelasnya.

Paparan berlebihan terhadap konten seperti ini dapat menyebabkan gangguan pada plastisitas otak, overstimulasi dopamin, dan kelelahan mental. Jika dibiarkan terus-menerus, dampaknya bisa sangat merusak fungsi otak lainnya.

Pentingnya Pilihan Konten Berkualitas untuk Anak

Menurut Sri, menonton konten media sosial sebaiknya dilakukan secara bijak dan secukupnya. Memilih konten yang berkualitas, baik berupa video pendek maupun panjang, sangat penting untuk mendukung perkembangan kognitif anak. “Biasakan menonton hingga selesai agar informasi yang diperoleh lebih utuh dan komprehensif,” tambahnya.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap efek negatif dari screen time berkualitas rendah. Di sinilah peran orang tua sangat vital, mulai dari memilihkan konten yang baik, membatasi durasi menonton, hingga mengutamakan interaksi nyata dengan anak.

Solusi Mengatasi Kecanduan Konten Anomali

Jika anak sudah terlanjur kecanduan konten anomali, bukan berarti tidak ada jalan keluarnya. Orang tua bisa mulai secara perlahan mengganti waktu layar dengan aktivitas nyata yang menyenangkan, seperti membaca buku bersama, bermain di luar rumah, atau sekadar jalan sore sambil mengobrol. Konsistensi dan keterlibatan emosional sangat dibutuhkan dalam proses ini.

Anak-anak tidak hanya butuh layar yang penuh suara dan gambar berlebihan. Mereka butuh kehadiran orang tua yang nyata dan perhatian yang penuh kasih sayang.

Konten Digital = Makanan Otak

Kini, memilih konten digital untuk anak sama pentingnya dengan memilih makanan yang mereka konsumsi. Sama seperti tubuh yang bisa rusak akibat junk food, otak anak pun berpotensi rusak akibat junk content — konten digital yang tidak bergizi dan berlebihan.

Oleh karena itu, membatasi konsumsi konten anomali dan menggantinya dengan tontonan yang edukatif, kreatif, dan mendukung perkembangan mental sangat penting demi masa depan generasi muda.

Konten anomali memang menghibur dan populer di kalangan anak muda, namun bahayanya tidak boleh diabaikan. Dampak brain rot akibat konsumsi konten absurd yang berulang berpotensi merusak fungsi otak dan perkembangan psikologis anak. Peran orang tua sangat krusial dalam mengawasi, memilih konten berkualitas, dan memastikan anak punya keseimbangan antara dunia digital dan interaksi nyata.

Dengan pengawasan dan kebijakan tepat, kita bisa melindungi generasi penerus dari dampak negatif konten anomali dan membantu mereka tumbuh menjadi individu yang cerdas dan sehat secara mental.

 

  • Penulis: markom kabarjatengterkini

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Rembang, M. Mahfudz /rembangkab

    Ekosistem Kopdes di Rembang Tunjukkan Perkembangan Signifikan

    • calendar_month Rab, 19 Nov 2025
    • account_circle Agriantika Fallent
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Rembang, Kabarjatengterkini.com – Ekosistem Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih di Kabupaten Rembang menunjukkan perkembangan yang signifikan. Tercatat, ada 170 agen laku pandai yang aktif memberikan pelayanan keuangan di masyarakat. Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Rembang, M. Mahfudz mengatakan bahwa hal itu menjadi bukti bahwa kopdes di Rembang tumbuh dan menjalankan fungsi […]

  • Pemkot Semarang Siapkan Penanganan Jangka Pendek-Panjang Terkait Dampak Jebolnya Tanggul Kali Plumbon

    Pemkot Semarang Siapkan Penanganan Jangka Pendek-Panjang Terkait Dampak Jebolnya Tanggul Kali Plumbon

    • calendar_month Rab, 20 Mei 2026
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Semarang, Kabarjatengterkini.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang meninjau langsung lokasi jebolnya tanggul Kali Plumbon, Mangkang. Terkait hal ini, pihaknya bersama pihak terkait menyiapkan langkah-langkah penanganan pascabencana. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyampaikan, penanganan tersebut meliputi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak banjir. Setelah itu, baru dilanjutkan pembangunan dan penguatan infrastruktur tanggul sungai dan relokasi. “Penanganan […]

  • Pemprov Jateng Bangun Peternakan Sapi Perah Seluas 710 Ha, Kapasitas 30 Ribu Ekor

    Pemprov Jateng Bangun Peternakan Sapi Perah Seluas 710 Ha, Kapasitas 30 Ribu Ekor

    • calendar_month Sen, 20 Jul 2026
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com – Peternakan sapi perah terpadu dibangun di Desa Karangbale, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes. Peternakan tersebut diperkirakan bakal memenuhi kapasitas mencapai 30 ribu ekor. “Ini merupakan peternakan dan pabrik susu terbesar di Indonesia dan di Asia Tenggara. Jadi Jawa Tengah akan lebih swasembada pangan terkait dengan produksi susu. Apalagi didukung juga oleh Menteri Pertanian,” kata […]

  • gunung

    Gunung Ungaran Bakal Dibor 2.200 Meter untuk PLTP, Warga Khawatir Dampak Lingkungan

    • calendar_month Sab, 29 Agu 2026
    • account_circle markom kabarjatengterkini
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com– Rencana eksplorasi panas bumi di Gunung Ungaran, Jawa Tengah, untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) menjadi sorotan masyarakat. Kekhawatiran terutama muncul karena proyek tersebut akan memasuki tahap pengeboran eksplorasi dengan kedalaman hingga 2.200 meter untuk membuktikan potensi energi panas bumi yang selama ini diperkirakan berdasarkan studi dan survei geologi. Warga di sekitar […]

  • karo

    Jalur Pendakian Gunung Semeru Ditutup Sementara Selama 10 Hari untuk Perayaan Hari Raya Karo Suku Tengger

    • calendar_month Kam, 17 Jul 2025
    • account_circle markom kabarjatengterkini
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com– Pendakian ke Gunung Semeru resmi ditutup sementara selama 10 hari mulai 17 hingga 26 Agustus 2025 dalam rangka menghormati Hari Raya Karo, perayaan kepercayaan masyarakat Suku Tengger. Keputusan ini disampaikan langsung oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha, yang menegaskan bahwa jalur pendakian akan kembali dibuka pada tanggal […]

  • Senam Zumba HUT KORPRI Digelar di Alun-alun Rembang/rembangkab

    Senam Zumba HUT KORPRI Digelar di Alun-alun Rembang

    • calendar_month Jum, 28 Nov 2025
    • account_circle Agriantika Fallent
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Rembang, Kabarjatengterkini.com – Senam zumba dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) ke-54 digelar di Alun-alun Rembang pada Jumat (28/11/2025). Dalam kesempatan itu, Bupati Rembang Harno menekankan bahwa kesehatan merupakan modal utama untuk bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, senam zumba ini digelar. “Sehat itu modal kita, sehat lahir […]

expand_less