Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sains » Fenomena Langit Lampung: Bukan Meteor, ITERA Pastikan Cahaya Misterius Adalah Sampah Antariksa China

Fenomena Langit Lampung: Bukan Meteor, ITERA Pastikan Cahaya Misterius Adalah Sampah Antariksa China

  • account_circle markom kabarjatengterkini
  • calendar_month Sen, 6 Apr 2026
  • visibility 14

Kabarjatengterkini.com– Masyarakat di sejumlah wilayah Provinsi Lampung dikejutkan oleh penampakan benda bercahaya terang yang melintasi langit malam pada Sabtu (4/4/2026).

Fenomena visual yang memukau sekaligus mendebarkan ini memicu spekulasi luas di media sosial, dengan banyak warga menduga bahwa benda tersebut adalah meteor jatuh atau komet yang melintas dekat bumi.

Cahaya terang berwarna kebiruan dengan ekor panjang itu tampak membelah langit selama beberapa detik, memberikan pemandangan dramatis yang terekam jelas oleh kamera ponsel warga. Namun, para ahli astronomi segera memberikan klarifikasi teknis untuk meredam kekhawatiran publik.

Analisis ITERA: Karakteristik Sampah Antariksa

Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melalui Pusat Observatorium Astronomi Itera Lampung (OAIL) secara tegas menepis dugaan bahwa benda tersebut adalah komet atau meteor. Berdasarkan analisis visual dan data lintasan, benda tersebut dipastikan sebagai benda artifisial atau buatan manusia.

Kepala OAIL ITERA, Dr. Annisa Novia Indra Putri, menjelaskan bahwa cahaya tersebut kemungkinan besar berasal dari puing-puing wahana antariksa yang kembali memasuki atmosfer bumi (re-entry).

“Kalau untuk fenomena langit di Lampung yang sedang heboh saat ini, itu bukan berasal dari komet. Kemungkinan besar adalah sampah antariksa dari rocket body (tubuh roket) atau satelit dari China,” tegas Dr. Annisa dalam keterangan resminya.

Pihak OAIL menambahkan bahwa pergerakan visual yang tertangkap dalam video amatir warga menunjukkan karakteristik yang sangat berbeda dengan benda langit alami. Benda langit seperti meteor atau komet biasanya memiliki kecepatan yang jauh lebih tinggi dan pola lintasan yang lebih konsisten secara periodik.

Mengapa Bukan Komet atau Meteor?

Dr. Annisa memaparkan beberapa alasan ilmiah mengapa fenomena tersebut dikategorikan sebagai sampah antariksa:

  1. Kecepatan Gerak: Benda yang terlihat di langit Lampung cenderung melaju lebih lambat dibandingkan komet atau meteoroid. Kecepatan yang melambat ini terjadi karena adanya gesekan yang sangat kuat dengan atmosfer bumi.

  2. Fragmentasi (Pecahan): Dalam video yang viral, terlihat benda tersebut pecah menjadi beberapa bagian kecil saat melintas. Ini adalah ciri khas benda buatan manusia (logam dan komponen satelit) yang hancur karena panas ekstrem saat menembus lapisan udara.

  3. Warna Cahaya: Warna biru kehijauan yang muncul sering kali merupakan hasil pembakaran material kimia atau logam tertentu yang menyusun badan roket atau satelit.

“Hujan meteor biasanya terjadi secara periodik dengan jadwal yang sudah bisa diprediksi. Sementara komet memiliki pergerakan yang sangat cepat. Fenomena kemarin menunjukkan benda yang terpecah di udara akibat gesekan atmosfer, yang identik dengan jatuhnya sampah antariksa,” jelasnya lebih lanjut.

Jalur Lintasan dan Titik Jatuh

Meskipun penampakannya sangat jelas di atas “Bumi Ruwa Jurai”, Dr. Annisa memastikan bahwa sisa-sisa puing tersebut tidak jatuh di daratan Provinsi Lampung. Berdasarkan data pemantauan, Lampung hanya menjadi salah satu wilayah yang dilintasi oleh jalur orbit benda tersebut sebelum akhirnya terbakar habis atau jatuh di lokasi lain.

Fenomena ini ternyata tidak hanya disaksikan oleh warga Lampung. Sejumlah penduduk di provinsi tetangga seperti Bengkulu dan Palembang juga melaporkan melihat kilatan cahaya serupa di waktu yang hampir bersamaan.

“Kalau untuk titik jatuhnya masih dianalisis lintasannya. Tapi memang jalur lintasan di sekitar jam tersebut melewati daerah Lampung. Kami pastikan tidak ada material yang jatuh di wilayah daratan Lampung,” pungkas Dr. Annisa.

Edukasi Literasi Antariksa bagi Masyarakat

Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya literasi astronomi bagi masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, asumsi mengenai “benda jatuh dari langit” sering kali dikaitkan dengan hal-hal mistis atau bencana besar. Klarifikasi cepat dari lembaga pendidikan seperti ITERA sangat membantu dalam memberikan edukasi berbasis sains kepada publik.

Hingga saat ini, pihak berwenang terus berkoordinasi dengan lembaga antariksa internasional untuk memastikan identitas pasti dari badan roket atau satelit China tersebut. Fenomena sampah antariksa yang jatuh ke bumi memang semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya aktivitas peluncuran satelit global dalam beberapa tahun terakhir.

  • Penulis: markom kabarjatengterkini

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wali Kota Semarang Apresiasi Semangat Gotong-royong Warga Mijen Rayakan Sumpah Pemuda

    Wali Kota Semarang Apresiasi Semangat Gotong-royong Warga Mijen Rayakan Sumpah Pemuda

    • calendar_month Sel, 28 Okt 2025
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Semarang, Kabarjatengterkini.com – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengapresiasi antusiasme warga Kecamatan Mijen dalam merayakan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Terlebih, perayaan tersebut digelar dengan semangat kebersamaan dan gotong-royong. Semangat gotong-royong tersebut diwujudkan dalam gelaran karnaval dan kirab budaya pawai gunungan hasil bumi pada Minggu (26/10/2025) di Taman Tirto Asri. Acara ini juga menjadi bukti warga […]

  • Telepon dan Video WhatsApp Bakal Dibatasi, Mengapa?

    Telepon dan Video WhatsApp Bakal Dibatasi, Mengapa?

    • calendar_month Jum, 18 Jul 2025
    • account_circle Agriantika Fallent
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com – Pemerintah berencana membatasi layanan dasar Over-The-Top (OTT) seperti telepon dan panggilan video WhatsApp. Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kemkomdigi Denny Setiawan mengatakan bahwa rencana itu sedang dikaji. “Masih wacana ya, masih diskusi. Intinya kan cari jalan tengah, bagaimana layanan masyarakat tetap berjalan,” ujar Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kemkomdigi Denny Setiawan […]

  • Dampak Banjir dan Tanah Longsor Kian Parah, 7 Bupati di Aceh Angkat Tangan

    Dampak Banjir dan Tanah Longsor Kian Parah, 7 Bupati di Aceh Angkat Tangan

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com – Tujuh bupati di Provinsi Aceh menyatakan ketidakmampuan menangani dampak banjir dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November 2025. Pernyataan tersebut bahkan telah disampaikan langsung dari Pemprov Aceh kepada pemerintah pusat. Tujuh kabupaten tersebut memiliki permasalahan serupa, yakni kerusakan infrastruktur parah, akses transportasi darat terputus, dan minimnya anggaran penanggulangan bencana. Kondisi pengungsian semakin […]

  • pawai

    Pawai Sound Horeg di Mulyorejo, Kota Malang, Ricuh: Adu Pukul Pecah Antara Peserta dan Warga

    • calendar_month Sel, 15 Jul 2025
    • account_circle markom kabarjatengterkini
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com – Pawai sound horeg yang digelar di wilayah Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, pada Minggu (13/7), diwarnai insiden kericuhan antara peserta pawai dengan warga. Ketegangan ini bahkan berujung adu pukul, yang mengakibatkan seorang warga mengalami luka di bagian pelipis. Menurut keterangan resmi dari Kepolisian Resor Kota (Polresta) Malang Kota, kericuhan bermula ketika rombongan peserta […]

  • palestina

    Ribuan Massa Pro Palestina Gagalkan Etape Terakhir Vuelta a Espana

    • calendar_month Sen, 15 Sep 2025
    • account_circle markom kabarjatengterkini
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com, Madrid, Spanyol – Unjuk rasa besar-besaran pro Palestina mengguncang ibu kota Spanyol, Madrid, pada Minggu (14/9/2025), memaksa penyelenggara membatalkan etape terakhir balapan sepeda bergengsi Vuelta a Espana. Ribuan pengunjuk rasa menyerbu jalur yang seharusnya menjadi tempat para pesepeda menyelesaikan perlombaan, mengubah atmosfer balapan menjadi arena solidaritas politik internasional. Peristiwa ini menarik perhatian dunia, bukan […]

  • Tanggul Sungai Tuntang Jebol Sebabkan Banjir Grobogan, Target Perbaikan 3 Hari

    Tanggul Sungai Tuntang Jebol Sebabkan Banjir Grobogan, Perbaikan Ditargetkan Rampung Besok

    • calendar_month Kam, 19 Feb 2026
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com – Banjir di wilayah Grobogan beberapa waktu lalu disebabkan karena jebolnya tanggul Sungai Tuntang di Desa Tinanding, Kecamatan Godong. Terkait hal tersebut, Pemprov Jateng menargetkan perbaikan tanggul rampung dalam waktu tiga hari hingga Jumat (20/2/2026). “Kemarin Pak Gubernur sudah menginstruksikan. Saya ingin memastikan pekerjaan dijalankan. Alhamdulillah, tinggal 2–3 hari lagi tanggulnya selesai,” ujar Wakil […]

expand_less