Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sains » Waspada! Perubahan Iklim Bisa Bangkitkan Ratusan Gunung Api Tidur di Bawah Es

Waspada! Perubahan Iklim Bisa Bangkitkan Ratusan Gunung Api Tidur di Bawah Es

  • account_circle markom kabarjatengterkini
  • calendar_month Sen, 14 Jul 2025
  • visibility 219

Kabarjatengterkini.com– Perubahan iklim selama ini dikenal sebagai penyebab mencairnya gunung es dan naiknya permukaan laut. Namun, riset terbaru mengungkap ancaman tersembunyi lain yang tidak kalah mengkhawatirkan: bangkitnya ratusan gunung berapi tidur yang tersembunyi di bawah lapisan es tebal.

Studi baru yang dipresentasikan dalam Konferensi Goldschmidt 2025 di Praha, Ceko, memetakan dinamika magma di bawah gletser Patagonia dan mengungkap bagaimana mencairnya es bisa mengguncang sistem vulkanik yang telah lama tertidur. Para ilmuwan menyebutkan bahwa meskipun letusan besar tidak akan terjadi dalam waktu dekat, percepatan pencairan es saat ini bisa meningkatkan risiko letusan vulkanik di masa mendatang.

Lapisan Es Tak Lagi Menahan Magma

Penelitian ini menelusuri jejak sejarah dari Lapisan Es Patagonia yang dulu menutupi ujung selatan benua Amerika Selatan. Sekitar 18.000 tahun lalu, saat es mencapai ketebalan maksimumnya, tekanan yang ditimbulkan lapisan tersebut menahan magma tetap berada di kedalaman sekitar 10–15 km di bawah permukaan Bumi.

Namun seiring menghangatnya iklim global, lapisan es mencair secara perlahan. Tekanan besar yang sebelumnya menahan magma kini menghilang, menyebabkan permukaan tanah terangkat, dan gas dalam magma mulai mengembang. Proses ini disebut sebagai salah satu pemicu utama aktivitas vulkanik.

“Gletser biasanya menekan volume letusan gunung api di bawahnya,” jelas Pablo Moreno-Yaeger, ahli vulkanologi dari University of Wisconsin-Madison yang terlibat dalam riset tersebut. “Tapi saat es mencair karena perubahan iklim, gunung api bisa meletus lebih sering dan bahkan lebih eksplosif.”

Gunung Mocho-Choshuenco: Contoh Nyata Perubahan Aktivitas Vulkanik

Penelitian ini menganalisis enam gunung api di wilayah Chile, salah satunya Gunung Mocho-Choshuenco, gunung yang kini tergolong tidak aktif. Meski tampak tenang, data menunjukkan bahwa aktivitas vulkaniknya di masa lalu sangat dipengaruhi oleh ketebalan es yang menutupi wilayah tersebut.

Proses kebangkitan gunung berapi ini memang tidak instan. Para ilmuwan memperkirakan butuh waktu 3.000 hingga 5.000 tahun sejak pencairan es dimulai hingga letusan besar terjadi. Namun, perubahan yang tercatat di Patagonia modern memperlihatkan bahwa proses itu sedang berlangsung sekarang.

Beberapa bagian daratan Patagonia tercatat mengalami kenaikan permukaan tanah dengan kecepatan lebih cepat dari yang diperkirakan, menandakan bahwa sistem vulkanik di bawah tanah sedang berubah.

Risiko Global: Tak Hanya Patagonia atau Islandia

Meski fenomena semacam ini sebelumnya sudah terpantau di Islandia, penelitian terbaru menunjukkan bahwa efek pencairan es terhadap aktivitas vulkanik terjadi di tingkat benua, bukan hanya wilayah regional.

“Ini bukan hanya masalah Islandia,” ujar Moreno-Yaeger seperti dikutip dari Science Alert. “Wilayah seperti Antarktika, Rusia, Amerika Utara, dan Selandia Baru juga berpotensi mengalami kondisi serupa. Ini saatnya komunitas ilmiah memberikan perhatian lebih.”

Sebuah simulasi di Antarktika menunjukkan skenario mengerikan: jika pencairan es terus berlangsung, gunung-gunung api yang tersembunyi di bawah permukaan es bisa meletus sewaktu-waktu. Bahkan jika magma tidak sampai menembus permukaan, panasnya bisa mencairkan es dari dalam, menciptakan bom waktu yang sulit dideteksi.

Positive Feedback Loop: Letusan Bisa Perparah Pemanasan Global

Dampak lain yang mengkhawatirkan adalah kemungkinan terbentuknya positive feedback loop. Ini adalah siklus yang saling memperkuat: gletser yang mencair memicu letusan, dan letusan gunung berapi menghasilkan gas rumah kaca, seperti karbon dioksida dan sulfur dioksida, yang pada gilirannya mempercepat pemanasan global dan pencairan es.

“Siklus inilah yang coba kami cegah,” kata Moreno-Yaeger. “Jika dibiarkan tanpa pengawasan, kita mungkin tidak punya cukup waktu untuk bertindak.”

Apa yang Bisa Dilakukan?

Penelitian ini menjadi peringatan dini bagi umat manusia untuk lebih waspada terhadap dampak lanjutan dari perubahan iklim. Fokus utama tidak hanya harus diarahkan pada naiknya permukaan laut atau gelombang panas ekstrem, tetapi juga pada aktivitas vulkanik laten yang bisa bangkit kapan saja.

Upaya pemantauan dan penelitian lebih lanjut sangat penting dilakukan di wilayah rawan, termasuk Patagonia, Antarktika, dan kawasan kutub lainnya. Peran serta komunitas ilmiah, pembuat kebijakan, hingga masyarakat global menjadi kunci agar dunia bisa mengantisipasi skenario terburuk.

Studi ini menjadi pengingat kuat bahwa perubahan iklim berdampak jauh lebih luas dari yang kita kira. Tidak hanya mencairkan es dan merusak ekosistem, tetapi juga berpotensi membangkitkan kembali kekuatan Bumi yang selama ini tertidur: gunung api. Kini, saatnya dunia bergerak lebih cepat untuk memahami, memantau, dan bersiap menghadapi konsekuensi yang mungkin muncul di masa depan.

  • Penulis: markom kabarjatengterkini

Rekomendasi Untuk Anda

  • kpk

    KPK Jadwalkan Pemeriksaan Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

    • calendar_month Kam, 7 Agu 2025
    • account_circle markom kabarjatengterkini
    • visibility 256
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com– Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali meningkatkan intensitas penyelidikan dugaan kasus korupsi yang berkaitan dengan penetapan kuota haji tahun 2023-2025. Kali ini, lembaga anti-rasuah tersebut menjadwalkan pemeriksaan terhadap mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, pada Kamis, 7 Agustus 2025. Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto, membenarkan rencana pemeriksaan terhadap mantan Ketua GP Ansor tersebut. Namun, hingga […]

  • diskominfo

    Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor karena Kesal Diolok-olok, Kerugian Capai Rp2 Miliar

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2026
    • account_circle markom kabarjatengterkini
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com– Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kutai Kartanegara (Kukar) di Jalan Pahlawan No. 1, Kelurahan Timbau, Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, terbakar pada Selasa (11/8/2026) pagi. Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 07.20 Wita itu ternyata bukan disebabkan korsleting listrik atau faktor teknis lainnya. Polisi mengungkap kebakaran tersebut sengaja dilakukan oleh […]

  • Wakil Kota Semarang, Agustina Wilujeng

    Pemkot Semarang Perkuat Program MBG demi Pembangunan SDM di Masa Depan

    • calendar_month Sab, 2 Mei 2026
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Semarang, Kabarjatengterkini.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang semakin memperkuat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayahnya. Ini diupayakan untuk memastikan generasi muda tercukupi kebutuhan dasarnya, sehingga bisa fokus untuk masa depan. “Kita ingin memastikan tidak ada lagi siswa yang harus belajar dengan perut kosong agar mereka bisa fokus meraih cita-cita,” kata Wakil Kota Semarang, Agustina […]

  • Produksi Beras di Jateng Diperkirakan Surplus, Pemprov Perketat Tata Kelola

    Produksi Beras di Jateng Diperkirakan Surplus, Pemprov Perketat Tata Kelola

    • calendar_month Jum, 19 Sep 2025
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com – Produksi hasil panen beras di Jawa Tengah diperkirakan surplus lebih dari 1,5 ton sampai dengan Oktober 2025. Atas surplus tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) perketat tata kelola hasil panen. Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jawa Tengah mendata produksi GKG Jateng tahun ini sekitar 8.614.010 ton atau naik 353.627 ton dari […]

  • Terbongkar Praktik Curang Ekspor Sarang Burung Walet dari Indonesia ke Vietnam

    Terbongkar Praktik Curang Ekspor Sarang Burung Walet dari Indonesia ke Vietnam

    • calendar_month Kam, 13 Nov 2025
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Kabarjatengterkini.com – Terbongkar praktik kecurangan ekspor Sarang Burung Walet (SBW) di kargo Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, beberapa waktu lalu. Temuan pelanggaran ekspor ini menyeret perusahaan eksportir inisial CJP. Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M Paggabean, tindakan ilegal tersebut berhasil diketahui oleh pihaknya pada Selasa (11/11/2025) lalu. Adapun modus yang digunakan adalah menukar SBW bersih dengan SBW […]

  • Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A) Kota Semarang, Eko Krisnarto.

    Pemkot Semarang Ingatkan Dana Rp25 Juta per Tahun Bukan untuk Kepentingan Pengurus RT

    • calendar_month Sab, 27 Jun 2026
    • account_circle Anisya Gusti
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Semarang, Kabarjatengterkini.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mengingatkan bahwa program Bantuan Operasional (BOP) RT Rp25 juta per tahun bukan untuk kepentingan pengurus, namun murni diperuntukkan untuk kemaslahatan warga. “Program ini dirancang untuk menggerakkan gotong royong warga,” tegas Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A) Kota Semarang, Eko Krisnarto. “Karena itu […]

expand_less