Minim Pemandu Gunung Profesional, Pemprov Jateng Dukung Pelatihan dan Sertifikasi
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Sen, 20 Apr 2026
- visibility 31

Foto: Minim Pemandu Gunung Profesional, Pemprov Jateng Dukung Pelatihan dan Sertifikasi (Sumber: Pemprov Jateng)
Kabarjatengterkini.com – Sebanyak 16 peserta mengikuti pelatihan Pemandu Wisata Gunung (PWG) di jalur pendakian Perantunan, Gunung Ungaran, beberapa waktu lalu. Program ini diinisiasi oleh Balai Latihan Kerja (BLK) Jasa Pariwisata milik Disnakertrans Jateng.
Pelatihan ini diberikan dengan tujuan membuka peluang kerja bagi masyarakat, salah satunya sebagai pemandu wisata gunung seiring meningkatnya tren jelajah alam di Jawa Tengah. Pasalnya, jumlah pemandu profesional saat ini dinilai masih minim.
Para peserta menjalani pelatihan, baik teori dan praktik, sejak 17-18 April 2026 yang lalu. Sebanyak 16 peserta dipilih untuk menjalani pelatihan ini dari 250 orang pendaftar. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah, dan rata-rata telah memiliki pengalaman sebagai pemandu atau pegiat wisata alam.
“Prinsipnya, kegiatan ini bertujuan melatih calon pemandu wisata gunung, agar memiliki kompetensi sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI),” kata Staf BLK Jasa dan Pariwisata Jateng, Hamid Adityawarman.
Lebih lanjut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen turut mendukung kegiatan ini. Hal itu sejalan dengan penetapan 2027 sebagai tahun pariwisata dan ekonomi Syariah.
Pada pelatihan PWG 2026 ini, pihaknya turut menggandeng Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), serta Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang berlisensi BNSP. Kerja sama tersebut untuk memastikan standar nasional terpenuhi, sehingga peserta dinyatakan kompeten.
“Kami juga bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang berlisensi BNSP,” imbuh Hamid.
Minat wisatawan untuk mendaki gunung di Jawa Tengah cukup tinggi. Dari 15 kawasan wisata gunung, tercatat sekitar 900 ribu pendaki setiap tahun. Sementara, Saat ini jumlah pemandu profesional hanya sekitar 160 orang. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

