Geger! Kemdiktisaintek Ungkap 99 Persen Kecurangan SNBT Mengincar Prodi Kedokteran
- account_circle markom kabarjatengterkini
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 13

Kabarjatengterkini.com– Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) membongkar fakta mengejutkan terkait pelaksanaan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.
Hampir seluruh temuan kasus kecurangan dalam ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tersebut ternyata mengincar Program Studi (Prodi) Kedokteran.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, mengungkapkan bahwa persentase kecurangan di program studi favorit tersebut mencapai angka yang sangat fantastis dan mengkhawatirkan.
“Intinya ini sebagian besar mungkin hampir semuanya 99 persen itu adalah Prodi Kedokteran,” kata Brian Yuliarto di sela-sela konferensi pers pengumuman hasil SNBT di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Merespons fenomena ini, Kemdiktisaintek menegaskan bahwa pemerintah tengah melakukan identifikasi mendalam demi memutus rantai kecurangan agar tidak kembali terulang di masa depan.
Sanksi Tegas Blacklist: Tak Ada Toleransi Bagi Pelaku Kecurangan
Kemdiktisaintek dipastikan bakal menindak tegas dan tidak memberi ruang sedikit pun bagi para pelaku kecurangan. Tindakan curang dalam seleksi akademik ini dinilai sangat merugikan peserta lain yang telah berjuang jujur, serta merusak fondasi moral generasi muda bangsa.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menekankan bahwa SNBT merupakan kompetisi nasional yang ketat. Ketika ada satu peserta yang lolos dengan cara yang tidak sah, maka ada hak peserta jujur lainnya yang terenggut.
“Apalagi ini proses SNBT, proses seleksi nasional. Artinya kalau kita lulus, atau seseorang lulus, kan ada yang tidak lulus, ada yang disingkirkan. Dan itu tentu secara fundamental, pembangunan pendidikan, pembangunan karakter kebangsaan, ini sangat tidak sesuai. Jadi kita tidak akan menoleransi sekecil apa pun bentuk kecurangan yang dilakukan untuk bisa lulus,” ujar Brian dengan nada tegas.
Sindikat Joki Ujian Menggurita di Jurusan Kedokteran
Senada dengan Mendiktisaintek, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), Eduart Wolok, membenarkan tren negatif tersebut. Berdasarkan data evaluasi dari tahun ke tahun, aksi lancung yang didominasi oleh penggunaan jasa joki ujian memang terkonsentrasi penuh pada jurusan kedokteran. Tingginya prestise dan prospek masa depan lulusan kedokteran diduga menjadi pemicu utama nekatnya para pelaku.
“Termasuk juga dengan yang disampaikan bahwa 99,9 persen memilih Prodi Kedokteran, iya karena itu data kecurangan yang kita dapatkan tahun lalu. Memang mayoritas hampir 100 persen itu yang menggunakan joki dan curang itu memang menyasar Prodi Kedokteran,” jelas Eduart.
Pada pelaksanaan ujian tahun ini, ketegasan panitia membuahkan hasil. Panitia SNPMB secara resmi berhasil menjaring dan mengidentifikasi 38 kasus kecurangan pada pelaksanaan SNBT.
Sanksi berat dan instan langsung dijatuhkan oleh pihak panitia. Seluruh peserta yang terbukti melakukan kecurangan langsung dimasukkan ke dalam daftar hitam (blacklist). Dampaknya, mereka otomatis kehilangan hak untuk mendaftar di PTN mana pun di seluruh Indonesia, baik melalui jalur mandiri maupun seleksi di tahun-tahun berikutnya.
Strategi Baru SNBT: Ujian Kedokteran Sengaja Digelar di Hari Pertama
Sebagai langkah antisipasi nyata guna meredam ruang gerak mafia joki pada SNBT 2026, panitia SNPMB menerapkan strategi mitigasi baru yang cukup cerdik. Seluruh peserta yang mendaftar di Prodi Kedokteran dan Kedokteran Gigi sengaja dijadwalkan untuk mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) serentak pada awal waktu, yaitu hari pertama dan kedua pelaksanaan ujian (21-22 April).
Penempatan jadwal di awal waktu ini menjadi bagian dari strategi kejutan (surprise mitigation approach). Tujuannya adalah untuk meminimalkan celah, kebocoran soal, dan ruang gerak sindikat joki yang biasanya memanfaatkan kelengahan sistem di pertengahan atau akhir gelombang ujian.
“Oleh karena itu, mengapa di tahun ini pada saat pelaksanaan UTBK, khusus untuk peserta dengan peminatan Prodi Kedokteran dan Kedokteran Gigi itu kita tempatkan di hari pertama dan hari kedua,” pungkas Eduart Wolok.
Langkah preventif ini diharapkan dapat mengembalikan marwah seleksi masuk perguruan tinggi yang bersih, transparan, dan berkeadilan bagi seluruh calon dokter masa depan di Indonesia.
- Penulis: markom kabarjatengterkini

