Harga Bahan Baku Plastik Melonjak, Pemprov Jateng Dorong Produksi Bioplastik
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Sab, 11 Apr 2026
- visibility 22

Foto: Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia (Sumber: Pemprov Jateng)
Kabarjatengterkini.com – Kenaikan harga bahan baku plastik sedikit banyak berdampak pada kegiatan ekonomi di Jawa Tengah. Banyak pedagang mengeluhkan kenaikan harga hingga kelangkaan plastik.
Kenaikan harga plastik disebabkan tingginya harga bahan baku atau naphta. Hal ini terjadi karena adanya gangguan pasokan energi global akibat pengamanan ketat di Selat Hormuz selama ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Kenaikan harga plastik itu disebabkan dari hilirnya dulu, yaitu terganggu pasokan secara global akibat ketegangan politik di Selat Hermus, yang berdampak pada naiknya harga naphta sebagai bahan baku plastik,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia, Jumat (10/4/2026).
Kenaikan harga naphta cukup signifikan, yakni dari sekitar 600 dolar per ton menjadi 900 dolar per ton. Lonjakan harga tersebut berdampak pada pelaku usaha, terutama di sektor makanan dan minuman yang menggunakan plastik sebagai kemasan primer.
“Tekanan yang paling berat itu adalah di IKM maupun UKM sektor pangan, karena penggunaan plastik sangat intens sebagai kemasan utama. Sektor lain tetap terdampak namun tidak sebesar industri makanan dan minuman,” terang dia.
Merespon hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan bekerja sama dengan kepolisian untuk mencegah oknum melakukan penimbunan plastik. Selain itu, kampanye pengurangan plastik sekali pakai juga dimasifkan kembali.
“Dalam jangka pendek kami akan turun ke lapangan bersama kepolisian, untuk mencegah penimbunan plastik, dan memperkuat kembali gerakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai,” terang Emmy.
Pihaknya juga mendorong produksi bioplastik sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan, meski lebih mahal biaya produksinya. Menurutnya, substitusi awal bisa dilakukan sekitar 20 hingga 30 persen, sebelum beralih secara lebih luas.
Sementara, untuk menekan biaya industri bisa dengan beralih menjadi industri hijau atau green industry. Penggunaan energi terbarukan seperti panel surya, dinilai mampu menekan biaya produksi hingga 20 persen.
“Kita harus mulai bertransformasi ke green industry, baik untuk IKM maupun industri besar, karena penghematan energi bisa menutup kenaikan biaya produksi,” tutur Emmy. (*)
- Penulis: Anisya Gusti

