Harga Minyak Mentah Stabil, Batu Bara dan CPO Menguat, Nikel dan Timah Melemah Pasca Pertemuan Trump-Xi
- account_circle markom kabarjatengterkini
- calendar_month Jum, 31 Okt 2025
- visibility 102

Kabarjatengterkini.com- Harga minyak mentah bertahan stabil pada perdagangan Kamis (30/10/2025), seiring sentimen positif dari potensi gencatan senjata perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Investor menilai kemungkinan meredanya ketegangan dagang kedua negara menjadi faktor pendorong stabilitas pasar energi global.
Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan menjadi sorotan utama pelaku pasar. Dalam pertemuan tersebut, Trump setuju untuk mengurangi tarif impor dari China dari 57 persen menjadi 47 persen dalam kesepakatan satu tahun.
Kesepakatan ini diimbangi oleh komitmen China untuk melanjutkan pembelian kedelai AS, menjaga aliran ekspor tanah jarang, dan menindak perdagangan fentanil ilegal. Langkah ini diyakini akan memperlancar rantai pasokan global sekaligus menenangkan pasar komoditas strategis.
Dikutip dari Reuters, minyak berjangka Brent menguat tipis 8 sen atau 0,1 persen menjadi USD 65,00 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 9 sen atau 0,1 persen menjadi USD 60,57 per barel. Kenaikan tipis ini mencerminkan optimisme investor terhadap stabilisasi hubungan dagang AS-China, meski pasar tetap waspada terhadap kemungkinan risiko geopolitik yang muncul di masa depan.
Batu Bara Melonjak Tajam
Selain minyak mentah, harga batu bara juga menunjukkan respons positif terhadap kabar pertemuan Trump-Xi. Berdasarkan situs TradingEconomics, harga batu bara naik 4,81 persen dan ditutup pada posisi USD 108,90 per ton.
Lonjakan harga batu bara didorong oleh ekspektasi peningkatan permintaan energi global, terutama dari negara-negara yang bergantung pada batu bara sebagai sumber utama listrik dan industri.
Para analis pasar menilai bahwa gencatan perang dagang antara AS dan China akan mendorong stabilitas suplai energi serta meningkatkan kepercayaan investor di sektor energi fosil.
Hal ini berdampak langsung pada harga batu bara yang sempat mengalami fluktuasi tajam akibat ketidakpastian perdagangan global dalam beberapa bulan terakhir.
Harga CPO Menguat Tipis
Sektor komoditas nabati juga menampilkan sentimen positif, khususnya minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Pada penutupan perdagangan Kamis, harga CPO sedikit menguat 0,19 persen menjadi MYR 4.260 per ton.
Kenaikan tipis ini dipengaruhi oleh stabilisasi pasar minyak global dan permintaan yang tetap kuat dari negara-negara konsumen utama seperti India, China, dan Uni Eropa.
Meskipun penguatan harga CPO relatif moderat, para pelaku pasar mencatat adanya tren positif jangka menengah bagi komoditas nabati. Peningkatan permintaan CPO global juga didorong oleh berkurangnya ketegangan perdagangan, yang memungkinkan rantai pasokan tetap lancar dan stabil.
Nikel dan Timah Melemah
Di sisi lain, beberapa logam industri mengalami tekanan harga pada penutupan perdagangan Kamis. Harga nikel tercatat turun 1,01 persen menjadi USD 15.250 per ton berdasarkan data TradingEconomics. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap fluktuasi permintaan global, terutama dari sektor otomotif dan elektronik yang menggunakan nikel sebagai bahan baku utama baterai dan komponen logam.
Harga timah juga mengalami penurunan 1,08 persen dan ditutup di posisi USD 35.792 per ton di London Metal Exchange (LME). Penurunan harga timah tercatat terjadi seiring meningkatnya pasokan dari produsen utama, sementara permintaan global menunjukkan tren stagnan.
Analis menyebutkan bahwa logam industri seperti nikel dan timah cenderung lebih sensitif terhadap perubahan kebijakan perdagangan dan pasokan, sehingga volatilitas harga masih tinggi.
Outlook Pasar Komoditas Global
Secara keseluruhan, pertemuan Trump-Xi memberikan sentimen positif bagi sebagian besar komoditas energi dan nabati, seperti minyak mentah, batu bara, dan CPO. Sementara itu, logam industri seperti nikel dan timah tetap menghadapi tekanan karena faktor permintaan global yang lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi dan pasokan.
Para analis menyarankan investor untuk tetap waspada terhadap dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan yang dapat memengaruhi pasar komoditas dalam jangka pendek. Stabilitas hubungan AS-China dianggap kunci utama dalam menjaga harga energi dan logam tetap stabil.
Selain itu, penguatan harga batu bara dan CPO diperkirakan akan terus berlanjut jika kesepakatan perdagangan berhasil dijalankan sesuai rencana. Di sisi lain, logam industri perlu pemantauan ketat terhadap suplai dan permintaan global, terutama dari sektor teknologi dan energi baru.
Dengan kondisi pasar yang masih fluktuatif, para pelaku pasar disarankan untuk menyesuaikan strategi investasi dan perdagangan mereka berdasarkan informasi terbaru dari sektor energi, logam, dan komoditas nabati.
Gencatan senjata perdagangan AS-China menjadi momentum penting bagi stabilisasi pasar global yang lebih luas, sehingga tetap menjadi perhatian utama investor dan analis.
Harga minyak mentah stabil di tengah optimisme terhadap gencatan perang dagang AS-China, dengan Brent berada di USD 65,00 per barel dan WTI di USD 60,57 per barel. Batu bara mencatat lonjakan signifikan ke USD 108,90 per ton, sementara CPO menguat tipis ke MYR 4.260 per ton.
Sebaliknya, nikel dan timah melemah masing-masing 1,01 persen dan 1,08 persen. Tren ini menunjukkan adanya perbedaan sentimen antara energi/nabati dan logam industri di pasar global, yang sangat dipengaruhi oleh kebijakan perdagangan dan hubungan internasional.
- Penulis: markom kabarjatengterkini

