Pemkot Semarang Intervensi Stabilitas Harga Pangan Lewat Program “Pak Rahman”
- account_circle Anisya Gusti
- calendar_month Rab, 17 Jun 2026
- visibility 31

Foto: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng (Sumber: Pemkot Semarang)
Semarang, Kabarjatengterkini.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berusaha mengintervensi dalam mengatur ketersediaan dan stabilitas harga pangan di wilayahnya. Hal ini dilakukan dengan mencetuskan program bertajuk “Pak Rahman” atau Pasar Pangan Rakyat Murah dan Aman.
Menurut Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, isu kedaulatan pangan sering kali luput dari pembahasan dan perencanaan pemerintah daerah. Sehingga, tata niaga pangan sepenuhnya bergantung pada mekanisme pasar bebas.
Ia mencatat, produksi beras lokal baru mencukupi sekitar 11 persen dari kebutuhan konsumsi. Hal ini menjadi tantangan yang harus dipecahkan di daerah karena pemenuhan pangan harian masyarakat merupakan tanggung jawab pemerintah.
“Lahan sawah di Kota Semarang saat ini tercatat sekitar 2.000 hektare. Jumlah produksi beras lokal tersebut baru mampu mencukupi sekitar 11 sekian persen dari total kebutuhan konsumsi masyarakat, belum termasuk komoditas daging dan ayam,” kata Agustina baru-baru ini.
“Kami di pemerintahan tidak memiliki sistem pengendalian maupun penentuan harga karena kendali sepenuhnya berada di pasar,” lanjut dia.
Lebih lanjut, program “Pak Rahman” menjadi salah satu bentuk intervensi Pemkot Semarang untuk menstabilkan harga pangan, sekaligus menjaga daya beli warga.
Program ini berupa mobil pangan keliling yang digerakkan secara gotong royong oleh para pedagang untuk menjangkau ratusan titik di Kota Semarang setiap bulannya. Sistem ini disebut berakar dari kebersamaan masyarakat yang tercermin dari budaya “Warak Ngendog”.
“Efektivitas sistem gotong royong dalam pengendalian pangan tersebut sebenarnya berakar kuat dari modal sosial toleransi masyarakat Kota Semarang yang sudah terjaga ratusan tahun,” terang Agustina.
Karakter kebersamaan itu tercermin dari filosofi makhluk imajiner Warak Ngendog ciptaan para budayawan 142 tahun lalu, di mana pertemuan lintas budaya harus menghasilkan ‘telur’ atau jalan keluar yang saling menguntungkan secara ekonomi,” lanjutnya.
Agustina optimis, inovasi yang lahir dalam bentuk “Pak Rahman” ini dinilai bisa memberikan dampak makro yang signifikan. Bahkan, menempatkan Kota Semarang sebagai daerah dengan pengendalian inflasi terbaik di Jawa Tengah. (Adv)
- Penulis: Anisya Gusti

